Sepotong Kenangan Traveling ke Medan



Kemarin aku melihat ada lomba foto di Instagram yang diselenggarakan oleh kemenpar. Lombanya tentang kain/wastra Indonesia. Aku sempat kepingin ikut. Kebetulan pernah jalan-jalan ke Sumatra Utara dan foto memakai kain ulos di Samosir. Sayangnya, file asli fotonya yang hires udah entah kemana. Kurasa hilang ditelan laptop yang dicuri orang beberapa tahun lalu.

Tapi gara-gara itu aku jadi mengenang kembali nih, cerita saat aku jalan-jalan kesana pada Juni 2013 lalu.

Aku, Ojrahar dan beberapa orang teman, menghabiskan 3 hari 2 malam untuk explore Sumatra Utara. Rute perjalanan kami dimulai dari kota Medan, Pulau Samosir via pelabuhan Ajibata di Prapat, lalu kembali ke kota Medan lagi via Pangururan melewati Tongging dan Berastagi.

Sebenarnya, perjalanan ke Medan saat itu sempat kurencanakan sebagai perjalanan bulan madu. Tiketnya sempat kubeli setahun sebelumnya karena kebetulan ada promo dari maskapai penerbangan murah. Sayangnya, ekspektasi honeymoon itu bubar karena sampai hari itu tiba, Ojrahar tak kunjung melamarku. Haha.

Tapi, bisa dibilang perjalanan bersama kami saat di Medan dan sekitarnya saat itu lah yang menentukan kehidupan percintaan kami selanjutnya.

Jadi ceritanya, hatiku kan gondok karena dia selow banget hidupnya. Udah lama ngomongin soal nikah tapi nggak segera action. Capek sist digantung. Haha. Makanya selama traveling bareng itu aku nggak mood aja deket-deket dia, maleas ngomong apalagi mesra-mesraan. Ya kecuali pas lagi butuh. Huehe.

Misalnya nih, aku baru mengajaknya ngomong kalo lagi pingin dibeliin sesuatu. Seperti waktu di Tomok. Di sekitar makam Raja Sidabutar kan ada banyak toko-toko souvenir. Aku jadi kepingin beli kain songket dengan warna dan coraknya yang cantik-cantik. Belum lagi beragam souvenir seperti kaos, hiasan dinding atau gantungan kunci. Menarik perhatian semua deh. Jadi aku masuk saja ke salah satu toko, mengambil satu kain songket lalu bilang ke Ojrahar; “Bang, aku kepingin kaos sama kain songket ini. Bayarin ya!”

Ojrahar yang emang dasarnya sabar dan damai itu si ya mau nggak mau lah bayarin belanjaanku. Lalu setelah itu, ya aku cuek lagi. Jalan si mungkin masih berdampingan, tapi nggak ada romantisnya deh. Sampai akhirnya kami sampai di Museum Batak dan mendadak bikin foto Prewedding.

Mendadak Prewedding & Minta Dilamar


Di Pulau Samosir, kami sempat menginap satu malam di daerah Tuktuk. Menikmati suasana malam di tepi danau Toba ternyata seru juga. Keesokan paginya, sebelum meninggalkan pulau Samosir dan kembali ke kota Medan, kami jalan-jalan sebentar di komplek Makam Raja Sidabutar di Tomok. 

Ada 2 makam raja disini, yang pertama Makam Raja Sidabutar I yang lokasinyadi pinggir jalan. Asiknya, untuk masuk ke makam kita nggak dikenakan biaya apapun alias gratis. Tapi disediakan kotak untuk menampunh sumbangan sukarela dari pengunjung yang dananya akan digunakan untuk perawatan makam.

Komplek makam yang kedua letaknya lebih ke dalam. Untuk menuju makam ini, kita harus melewati jajaran toko-toko souvenir, dan beberapa rumah adat khas Batak. Didepan rumah-rumah adat itu, digelar pertunjukan patung sigale-gale yang berjoget dengan iringan musik Batak.

Oya, untuk masuk ke komplek makam Raja Sidabutar II, kita diwajibkan memakai ulos. Tenang, ulosnya udah disediakan kok di pintu masuk untuk semua pengunjung secara gratis.

Di dalam komplek makam, terdapat kursi-kursi dimana kita boleh ikut duduk dan mendengarkan penjelasan petugas tentang sejarah raja-raja yang dimakamkan disana. Nanti di pintu keluar, kita wajib mengembalikan ulos yang dipakai dan memberikan donasi seiklasnya.

Nggak jauh dari Makam Raja Sidabutar II ada Museum Batak yang sayang kalau dilewatkan. Tiket masuknya cuma Rp3.000,- per orang.

Saat memasuki museum, kami disambut oleh seorang ibu berusia paruh baya. Rupanya dia adalah petugas di museum itu. Selain memberi penjelasan tentang benda-benda yang dipamerkan di museum itu, dia juga menawarkan kami untuk mencoba mengenakan kain ulos a la keluarga raja. Cukup membayar Rp20.000 per orang aja untuk menyewa satu set ulos untuk dipakai.

Kupikir, kapan lagi ada kesempatan unik begitu. Jadi aku setuju untuk menyewa kain ulosnya. Yang rupanya, Ojragar juga.

Selesai didandani a la raja dan ratu, kami kok jadi kompak untuk cari spot foto berdua. Dalam hati aku merasa... Kok jadinya kayak lagi prewedding ya? *kyaa

By thw way, setelah itu, aku bilang ke Ojrahar. Seingatku semacam peringatan untuk terakhir kalinya. "Pokoknya, kalo kamu serius mau nikah, pulang dari traveling ini, ajak orang tuamu ke rumahku, ya!" gitu pintaku.

Harga Sebuah Kenangan


Long story short, sekarang kami sudah jadi suami istri. Sudah nambah dua anak. Rasanya pingin ketawa aja kalau ingat kenangan saat traveling ke Medan dan Samosir 6 tahun lalu itu.

So buat kalian yang mungkin aja sekarang lagi galau soal jodoh. Punya gebetan, udah deket tapi kok lama banget nggak maju ke tahap selanjutnya menuju pernikahan. Bisa dicoba untuk traveling bareng mungkin? Kalik aja selama jalan bareng itu kamu jadi dapat pencerahan dan berani memutuskan mau lanjut atau udahan aja. Kayak aku dulu. 

Cus hunting tiket buat traveling. Tiket pesawat ke Medan juga boleh. Coba aja cari tiket pesawat di Pegipegi. Kalian bisa pakai menu filter untuk mengurutkan tiket sesuai kebutuhan. Bisa diatur supaya berurutan sesuai harga termurah, atau diatur urutannya sesuai jam pernerbangan.

Oya, jangan lupa manfaatin kode-kode promonya supaya bisa dapat diskon yang lumayan. Seperti barusan nih, aku liat ada promo diskon sampai 15% di Pegipegi. Oke banget kan?

Pokoknya jangan kalah sama harga tiket pesawat yang katanya mahal itu. Karena kenangan saat traveling itu jauh lebih mahal nilainya.

Tidak ada komentar

Sila berkomentar untuk meninggalkan jejak, supaya memudahkan saya juga untuk kunjungan balik. Cheers!