Perkembangan Bahasa Abang Ranu Usia 23 Bulan


Beberapa waktu lalu aku sempat stres. Aku terlalu terbawa fikiran negatif. Akibatnya aku jadi gampang sakit. Dan kurasa bukan cuma sakit fisik, tapi juga psikis. Padahal lagi hamil besar gini. Tentu saja itu sangat mengganggu aktifitas harianku.

Pemicu Stres

Salah satu fikiran negatif yang menggangguku adalah tentang tumbuh kembang Abang Ranu. Di usianya yang hampir 2 tahun, perkembangan bahasanya tidak terlalu bagus. Dan aku makin stres kalau baca buku-buku tentang tumbuh kembang anak sesuai usianya. Bukannya termotivasi untuk mencari solusi, yang ada ketakutanku malah makin menjadi.


Aku takut Ranu bisu. Kalaupun bukan bawaan lahir, aku takut ketidak mampuannya bicara karena kesalahanku dalam mendidiknya lalu keterusan. Aku juga takut dia autis. Naudzubillah.


Ketakutan itu sampai beberapa kali terbawa mimpi. Saat tidur dan bermimpi, aku bisa sampai menangis dan berteriak. Terbangun tengah malam dengan perasaan cemas lalu susah kembali tidur. 

Jalan Terang

Untungnya aku berhasil keluar dari keadaan itu. Dan aku sangat berterima kasih kepada Ojrahar yang begitu sabar mendampingiku, juga teman-teman di beberapa WA group yang ikut memberi support agar aku bangkit.

Aku mendapat banyak masukan bagaimana mengatasi masalahku, termasuk stimulasi yang baik untuk mendorong perkembangan bahasa pada anak. Sebagian besar teorinya sebenarnya sudah kuketahui. Misal yang paling sederhana saja, sering-seringlah ajak anak mengobrol untuk merangsang mereka belajar mengucapkan kata-kata dan memperkaya kosa kata.

Hanya saja karena berbagai alasan, aku memang jarang mengobrol dengan abang Ranu. Salah satu alasannya adalah dilema ibu bekerja. Maka, berbahagialan ibu-ibu yang sehari-harinya di rumah untuk mendampingi anak. Tetapi untuk working mom seperti aku, tak perlu berkecil hati. Hanya kita yang paling tau kondisi dan alasan kuat mengapa kita tetap bekerja. Chayo!


Ok, sampai di sini dulu curhatnya. Sekarang lanjut ke cerita bahagia soal Abang Ranu yang sudah banyak perkembangan.

Berfikir Jernih

Seharusnya, aku tak perlu takut soal bisu. Karena sejak umur 12 bulan, si Abang sudah bisa mengucapkan beberapa patah kata, seperti "am", "mam", "neh" kalau minta nenen.

Dan seharusnya aku juga tidak perlu takut soal autis, karena kalau memegang handphone dia semangat sekali mengucap kata "hao" untuk mengatakan "halo". Itu menunjukkan bahwa dia juga ingin bersosialisasi. Dan lagi, saat bermain dengan teman sebayanya, dia berusaha berbaur meski belum bisa bicara. Saat duduk di sepeda, dia minta temannya untuk mendorong dengan bahasa tubuh. Atau saat ingin bermain bola, dia melempar atau menendang bola ke arah teman mainnya.

Progres Perkembangan Bahasa

Jadi setelah bisa berfikir waras, aku sadar bahwa ternyata akar masalahnya memang ada pada lingkungan keluarga yang jarang mengajaknya mengobrol.


Lalu selama 2 bulan aku mencoba memperbaiki diri dan semangat memberi stimulasi. Alhamdulillah sekarang sudah ada perkembangan.

Secara kosakata memang belum banyak. Tetapi dia cerewet sekali walau masih bubbling tanpa arti. Tetapi tetapi berbeda dari sebelumnya. Kalau dulu bubbling sendirian, sekarang bubbling dengan menatap mata lawan bicara sambil menggerakkan tubuh. Yang mana itu artinya dia sedang bercerita, menunjukkan sesuatu.

Misal;
  • Jika anggota tubuhnya ada yang luka atau sakit, dia akan menunjukkan bagian yang sakit/luka itu. Menunjuk dengan jari sambil bilang "uuh, ini, ini" dan biasanya dilanjutkan dengan kata-kata tanpa arti atau menunjuk benda atau tempat yang mrmbuatnya sampai luka.
  • Saat dia ingin menari, dia menyodorkanku hape, menunjuk-nunjuk layarnya sambil bilang "nih", lalu dia mulai berjoget. Tandannya dia minta diputarkan musik.


Sedangkan untuk kosakata, sudah beberapa yang bisa dia ucapkan dengan jelas, dan beberapa masih belum jelas juga sih, hehe. Seperti;
  • "teteh" untuk memanggil tante-tantenya
  • "kaka" untuk memanggil kakak (Abyan)
  • "mamah" untuk memanggil mamasnya (Daffa)
  • "neneh" kalau minta nenen
  • "aem" kalau minta susu atau makan
  • "neneh" kalau minta nenen
  • "hawo" untuk kata halo saat menelepon
  • "goo" selalu diucapkan dengan teriak kalau nonton bola di TV
  • "Awooh" untuk takbir saat sholat
  • "inih" untuk menunjuk sesuatu atau memberi sesuatu pada lawan bicara
  • "auh" untuk kata "aduh"
  • "ckckck" untuk meniru suara cicak


Itu kata-kata yang sering dia ucapkan. Ada juga beberapa kata yang bisa diucapkan dengan spontan seperti "abah", "mbah", atau "ayah". Tapi kalau diminta mengulang dia tidak mau. Haha. 


Melihat perkembangan bahasa Abang Ranu di usianya sekarang (23 bulan), aku merasa bahagia. Mengingat sekotar 2 bulan lalu kosakatanya belum sebanyak ini. Semoga terus berkembang dan sampai akhirnya nanti dia bisa mengucap kata "ibu" untuk memanggilku, lalu kami saling berbagi cerita yang membahagiakan. Aamiin.

14 komentar

  1. Amin...
    Jangan terlalu banyak pikiran negatif :)

    setiap anak istimewa. Anak saya Fahmi mau usia 2 tahun dia blm jalan. Padahal anak seusianya blm setahun sudah pintar lari lari. Saya heran dan takut. Tapi berpikir positif aja.

    Orang tua disini bilang kalau anak jalan lambat, biasa ngomong dan tumbuh gigi lebih cepat. Emang bener itu yg dialami Fahmi. Usia setahun dia udah panggil saya ibu, ayah, mamah ke neneknya, dan kata2 lain bahasa Sunda yang biasa kita pakai sehari hari.
    Gigi juga iya tumbuh duluan.

    Tapi meski begitu tetap usaha juga saya lakukan. Tiap pagi saya atau neneknya bawa Fahmi jalan di rerumputan yang masih berembun. Entah tradisi atau apa sebabnya tapi saya pikir ga ada salahnya dilakukan. Secara logika sehat dan baik juga buat anak juga buat orang dewasa.

    Akhirnya alhamdulillah 2 tahun lewat Fahmi bisa berdiri dan jalan...

    Semangat aja ya. Apalagi lagi hamil, positif thinking yang disunahkan Rasul siapa sehat ibu, sehat janin dan sehat si kakaknya janin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa setiap anak memang unik, ngga akan sama perkembangannya. Hanya kadang suka down juga, tapi untungnya support sistem cukup bagus jd gk lama2 aku bapernya. Hehe

      Hapus
  2. Semangat, mba Nurul Noe. Anakku sempat dibilang lambat ngomong, ngomong nggak jelas, telat baca dan bla bla jika dibandingkan sodara dan teman seusianya. Tapi aku selalu yakin dia bisa dengan kemampuannya. Salam kecup untuk Abang Ranu :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kecup balik dari Ranu untuk tante Alida. Muach. Makasih yaaa

      Hapus
  3. Kecup abang Ranu
    Tenang aja ibu cantik, semua anak istimewa, akan tiba masanya abang Ranu tanya ini itu sampai ibunya bosen ngejawab hehehe
    Atau suatu hari sepulang ibunya ngantor, abang Ranu sudah menunggu dengan segudang cerita pengalamannya seharian. Nah siapin kuping dan waktu plus senyum manis deh buat dengerin ocehannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha iyaa, jadi inget masa2 MasKa kecil dan lagi cerewet2nya, semua semua ditanya :D

      Hapus
  4. Waah Ranu udah gede yaaa. Ada juga kok sodaraku yg umur dua tahunan belum jelas ngomongnya. Yg penting tiap ada kesempatan diajak ngobrol aja noe. Bentar lagi jadi abang yaa Ranuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, iua bentarRlg jadi abang beneran. Haha

      Hapus
  5. Aaaaaa,rinduku terobati...lihat foto ranu,lama g lihat di ig >_<...

    Aqla juga masih belum banyak kosa katanya,yang lancar dan fasih bilang BAPAK!!aku cemburu,masak belum juga ngucap ibu,semoga segera.
    Semoga abang tamu sehat dan makin pintar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kyahahaha, sama ya kita, merindukan kata ibu terucap dr bibir mungil anak. Semoga segera yaaa, aamiin.

      Hapus
  6. Anak2 ki jg bgt mba jalan dulu mereka d usia 11 bln hmpr mau dua th br once bicara, gk khawatir sih krn setiap anak2 beda gk hrs dsamakn dg yg lain, yg penting sehat cerdas dn aktif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, ini si Ranu jg umur 11 bulan udah jalan. :D

      Hapus
  7. Setiap anak memang istimewa ya mba..berbeda2 perkembangan fisik hingga bahasanya. Anakku arfa jg baru dua tahunan mulai banyak kosakatanya..dlu manggil ibu pun dia gak bisa..sedih rasanya..tapi bener sih harus ambil positifnya..arfa lebih cepat jalan n berlari pas usia setaun..blm lagi loncat..pdhal masih umur sgtu. Pas ketemu sama temen yg punya anal seumuran arfa..kosakatanya udah banyaaak bgt tapi blm pandai berjalan. Nah dr situ saya mulai sadar bahwa anakw memang istimewa dan tidak bisa disamakan..tetep semangat mba noe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaap, aku jd inget buku parenting karangan Irawati Istadi nih, yg judul "Istimewakan Setiap Anak" :)

      Hapus

Sila berkomentar untuk meninggalkan jejak, supaya memudahkan saya juga untuk kunjungan balik. Cheers!