Kejutan Ulang Tahun


Beberapa waktu yang lalu, kami sekeluarga nonton on the spot, tayangan serba 7 hal unik dan menarik di sebuah channel TV swasta. Kebetulan, saat itu sedang dibahas tentang 7 kejutan ulang tahun yang berakibat fatal dan mengerikan.

Satu per satu ditayangkan, bagaimana kejutan ulang tahun yang awalnya hanya untuk seru-seruan, justru mengakibatkan kebakaran, kerusakan wajah, kebutaan mata hingga harus operasi cangkok, sampai akibat kematian yang dialami orang yang berulang tahun. Duh, serem!

Ya, antara serem dan kesal melihatnya. Sampai-sampai aku ngga bisa menahan diri untuk untuk ngga komentar.


"Duh, ya, itu yang pada ngerjain sampe akhirnya temennya mati gitu, rasa bersalahnya seumur hidup kali ya" komentarku meluncur begitu saja.

Dan tanpa kuduga, si kakak, yang umurnya masih 8 tahun itu menyahut.

"Orang mah, kalo ulang tahun itu ngasih kado atau beliin kue, bukannya dikerjain gitu ya bu, ya" ujarnya meminta persetujuan.

Agak kaget mendengar kalimatnya, tapi aku senang mengetahui si kakak sudah bisa menilai sebuah tontonan, antara mana tindakan yang salah dan mana yang sebaiknya dilakukan.

Keluarga kami memang bukan keluarga dengan aturan ketat, termasuk soal tayangan TV. Hanya sebisa mungkin, kami tidak menonton tayangan-tayangan yang  sekiranya membuatku sulit menjelaskan kalau ditanya-tanya sama anak-anak. Misal, yang sama sekali tidak akan kutonton bersama anak adalah acara yang berbau-bau pedofil atau isu LGBT. Atau tayangan soal teroris-teroris. Dan tayangan lain yang aku sendiri pusing kalau nonton, dan bikin tambah pusing kalau anakku nanya-nanya nantinya.

Ya, kalau on the spot aja sih masih okelah. Walau kadang suka ada ulasan tentang buli-bulian, atau hantu-hantuan. Biasanya sambil nonton aku bakal ajak mereka bicara, ajak mereka merasakan dan menilai. Dan kulihat sejauh ini mereka bisa mengerti dan mengambil pelajaran. Salah satu contohnya ya bagaimana cara pandang si kakak dan mengomentari soal kejutan ulang tahun yang menyebabkan kematian itu.

Oya, untuk menanggapi komentar si kakak, aku menjawab dengan nada antusias. Berharap dia merasa pendapatnya yang benar itu mendapat apresiasi dari orang tuanya.

"Iyak, betuuuul sekali!" sahutku.

Lalu aku ingat, bahwa bulan Mei adalah momen ulang tahun Ojrahar. Aku jadi terfikir untuk minta pendapat kakak kado apa yang cocok. Tapi aku tidak bilang kalau yang ulang tahun itu adalah abinya. Pertanyaanku begini;

"Kak, sebentar lagi ada temen ibu ulang tahun. Enaknya kasih apa ya?"

Mendengar pertanyaanku, Ojrahar yang merasa sedang jadi topik pembicaraan senyam-senyum.

Dan si kakak pun menjawab, "kasih tupperware aja, bu" katanya.

"Kenapa tupperware?" tanyaku lagi menyelidik.

"Ya biar buat bawa bekel makan siang lah" jawabnya kemudian.

"Tapi yang ibu maksud temen itu ... adalah abi" akhirnya aku memberi tahu soal siapa teman yang kumaksud.

Dan si kakak pun kesal, merasa dikerjai. Haha. Yang terjadi selanjutnya, kami sibuk mencari apa hadiah yang cocok untuk Ojrahar. Sayangnya, saat hari ulang tahun itu tiba, akunya yang lupa. Tak ada perayaan, tak da ucapan selamat ulang tahun. Tapi itu bukan masalah besar bagi kami. Karena ulang tahun di keluarga kami bukanlah sesuatu yang harus dirayakan.

6 komentar

  1. Iiih, Ibu pelupaa. Hahaha.

    BalasHapus
  2. Hihihi, yang mau dikerjain merasa. Semoga bahagia selalu keluarganya mbak Noe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih Titis. Moga kamu juga bahagia selaluu

      Hapus
  3. Terus aku gemes sama si kakak :D

    BalasHapus

What wasn't said, will never be heard. What wasn't wrote, will never be read. Tinggalin komentar yuk...