Romansa Jogja Dalam Potret Wedang Ronde


Ada yang membuatku terus mengenang Jogja sebagai kota yang romantis dalam benakku. Beberapa bulan setelah menikah, aku dan Ojrahar melakukan perjalanan berdua saja ke sana. Satu sore, kami menghabiskan waktu berdua di alun-alun Jogja.

Aku dan Ojrahar duduk di warung lesehan. Kami memesan semangkuk wedang ronde untuk menjadi penghangat romantisme kami sore itu, sambil menikmati suasana yang ada. Mobil berhias lampu kerlap-kerlip, pedagang mainan, juga mereka yang berjalan dengan mata tertutup melewati lorong beringin kembar.

Oya, sebelum wedang ronde itu habis kumakan, aku masih sempat memotretnya dengan smartphoneku. Dan hari ini kutemukan foto itu di penyimpanan Google Photos saat aku sedang iseng membuka lagi kenangan perjalanan-perjalanan kami. Ya, aku sering melakukan ini. Merasakan kembali setiap kenangan manis melalui foto-foto.


Walaupun fotonya juga seadanya sekali. Maklum, waktu itu aku belum kebeli kamera. Juga belum punya smartphone dengan kamera mumpuni. Seandainya waktu itu aku sudah pakai ASUS Zenfone 3 seperti yang sekarang kupakai, fotonya mungkin bisa lebih bagus karena adanya teknologi PixelMaster Camera.

PixelMaster Camera adalah teknologi fotografi untuk smartphone yang khusus dikembangkan ASUS agar bisa menghasilkan foto berkualitas selayaknya menggunakan kamera pro.

Well, semenjak pakai Zenfone 3, aku merasa sangat terbantu dalam membuat foto untuk blog dan socmed. Karena memang tidak setiap saat kamera pro bisa diandalkan. Sementara smartphone adalah benda yang selalu dibawa kemana saja. Maka kamera yang mumpuni pada smartphone memang menjadi sangat penting di era digital sekrang ini.

Yang aku suka dari Zenfone 3 milikku sekarang ini, adalah teknologi PixelMaster Camera sudah generasi ketiga, alias yang terbaru. Tersedia mode manual untuk membuat foto sesuai keinginan. Bisa atur shutter speed sendiri, ISO, White Balance, juga fokusnya. Contohnya foto wedang ronde yang sempat kunikmati minggu lalu di Hotel Kristal di bawah ini.

Memotret wedang ronde dengan Zenfone 3 ZE520KL

Ceritanya, Sabtu 18 Februari lalu aku diundang ke Hotel Kristal untuk mencicipi beragam kuliner nusantara yang disajikan. Sebenarnya aku bawa kamera ke sana. Sayangnya saat aku ingin memotret si wedang ronde yang mengingatkanku pada romantisme Jogja, malah kameraku kehabisan baterai. Tapi aku ngga perlu sedih lah ya. Kan ada ASUS Zenfone 3!

Aku memotret dengan mode manual agar fotonya bisa lebih terang. Soalnya suasana restorannya tuh temaram gitu. Cahayanya minim. Kalau pakai mode auto, kok hasil fotonya agak gelap.

Seandainya kondisi cahaya cukup, biasanya mode favoritku untuk membuat foto seperti di bawah, aku sukanya pakai mode depth of field (DOF) untuk membuat foto semacam makro dengan background blur.


Sebenarnya, ada mode low light juga yang biasa diandalkan jika memotret dengan smartphone ASUS kalau kondisi minim cahaya. Tapi mode itu biasanya kupakai kalau mau membuat foto wide angle.

Selain itu, masih ada banyak lagi mode kamera yang bisa digunakan seperti HDR, Children, GIF Animation, Miniature, dll. Totalnya ada 20 mode lho!

By the way, setelah merasa cukup jeprat-jepret wedang ronde untuk kebutuhan upload ke media sosial, demi mengendorse Hotel Kristal yang sudah berbaik hati mengundangku, baru deh kusantap wedang ronde itu. Dan saat suapan pertama, ingatanku kembali terbang ke kota Jogja.


Walaupun memang, ada perbedaan antara wedang ronde yang kunikmati di Jakarta dengan wedang ronde di Jogja. Terutama pada kuahnya. Tetapi sama-sama menghangatkan karena kandungan jahe. Yang di hotel Kristal, ada komposisi gula jawa yang katanya berkhasiat membersihkan darah, mengatasi sariawan, mencegah anemia, jerawat serta asma.

Itu dari sisi khasiatnya, belum lagi kubahas sensasi menikmati wedang ronde yang berisi ronde, kacang goreng dan potongan roti. Yang paling aku suka tentu bola-bola ronde yang terbuat dari tepung ketan. Saat digigit, ada serbuk kacang dan gula di dalamnya. Sensasi rasanya sama seperti mendapat pelukan dari kekasih sambil dibisiki kata-kata cinta. Eaa. Membahagiakan lah!

Well, kata orang kalau jalan-jalan ke Jogja memang wajib bin kudu nyobain wedang ronde. Itu sebabnya dulu waktu ke sana aku dan Ojrahar juga nyobain. Kamu juga kan?



Kapan-kapan aku kepingin balik lagi ke Jogja untuk mengulang kenangan manis di sana. Dan dengan Zenfone 3 di tangan, aku akan membuat lebih banyak hal lagi. Tidak hanya foto, tetapi juga video untuk diupload ke media sosial. Waktu di Hotel Kristal juga aku sempat bikin videonya pake Zenfone 3 dan diupload ke instagram. 

Jadi bukan cuma buat kenang-kenangan atau dokumentasi, harapanku bisa sekalian untuk mempromosikan the beauty of Indonesia yang ada di Jogja.

***
Artikel ini diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel

12 komentar

  1. Hmmm, enaaak. Aku paling suka makan kacang sama kuahnya aja. Sedep-sedep hangat kacangnya gurih renyah. Ah, jadi pengen ngeronde, Mbaaakkk :((

    BalasHapus
  2. Aku belum pernah makan wedang ronde, huu pengen nyobain nih lagi ujan begini.

    BalasHapus
  3. Wedang ronde kemarin gw nyobain ga yak? Yang mirip-mirip wedang jahe kan?

    BalasHapus
  4. Kayaknya enak bikin tenggorokan legal, hehe maklum sayanya lagi batuk mbak, bagus ya kualitas foto Asus smartphone, aku juga pake. Puas dengan pixel camera dr Asus. Top.

    BalasHapus
  5. Baca postinganmu jd kangen ama jogja mak..romantisme jigja emang ga ada yg bisa ngalahin apalagi dinikmati bareng wwdang ronde :)

    BalasHapus
  6. Aaaah aku mau rondenyaaa, enak banget dimakan pas hawa dingin.

    BalasHapus
  7. wahh iya nih, enak banget kalo di makan malem malem lagi hawa dingin, kebetulan di rumah ku sering lewat tuh jam 11 an. jadi enak banget kalo malem makan ini hahah

    BalasHapus
  8. wedang ronde emang ngangenin

    BalasHapus
  9. adem adem paling nikmat wedang ronde. hee

    BalasHapus
  10. Aku juga paling suka itu buletan2 dr tepung ketannya, lembut dengan sensasi rasa kacang di dalamnya saat dikunyah2 ;)

    BalasHapus
  11. Hikss, nyasar kesini malam-malam dan masih belum boleh ngincipi yang manis-manis gara2 detox

    BalasHapus

What wasn't said, will never be heard. What wasn't wrote, will never be read. Tinggalin komentar yuk...