Menangani Barang Bekas


Minggu ini aku pinya rencana untuk bersih-bersih rumah. Aku merasa sudah terlalu banyak barang yang tak terpakai dan jadi bikin sumpek. Mungkin udah jadi kebiasaan selama ini, ada barang ngga terpakai tapi dibuang sayang. Dengan harapan mungkin nanti bisa diperbaiki atau bagaimana. Tapi kenyataannya itu barang bekas ya cuma numpuk aja. Ujung-ujungnya malah jadi sarang tikus. Euh!

Beberapa barang bekas yang masih numpuk di rumahku di antaranya adalah perlengkapan bayi baru lahir, sepatu dan baju-baju MasKa yang udah kekecilan, mainan anak-anak yang udah ngga karuan bentuknya, peralatan rumah tangga yang jarang banget dipakai, tas-tas yang udah rusak resletingnya atau putus talinya, dan masih banyak lagi.

Menghadapi banyak barang bekas dan terpakai memang dilema tersendiri. Mau diapakan? Dibuang sayang. Apalagi kalau mengingat perjuangan untuk mendapatkannya yang kadang harus nabung dulu. Juga nilai histori yang menyimpan kenangannya sendiri.

Alternatif kedua selain menyimpannya, biasanya adalah memberikannya kepada orang lain. Tapi ada masalah lain seperti rasa ngga enak hati karena yang diberikan adalah barang bekas. Takut orang tersinggung gitu kan.

Bulan lalu, aku akhirnya membuang satu kantang plastik besar berisi baju-baju bekas pakai milikku & Ojrahar. Baju-baju itu tadinya mau disumbangkan ke korban banjir Anyer. Tetapi saat kami akan salurkan ke relawan, mereka bilang sudah banyak baju bekas jadi sebaiknya bantuan dalam bentuk lain saja.

Baju yang akhirnya kami buang tentu tidak dalam arti sebenarnya. Kebetulan, sampah di komplek tempat tinggalku ada yang mengelola. Seminggu 2 kali ada yang mengambil sampah rumah tangga dengan moge alias motor gerobak. Jadi saat menyerahkan satu kantong baju bekas aku menitip pesan ke petugas sampah itu.

"Pak, kantong yang ini isinya baju-baju bekas. Banyak yang masih bagus kalau bapak mau ambil atau mungkin ada orang lain yang bapak kenal dan membutuhkan., silakan ambil. Saya titip ya, Pak! Terima kasih."

Aku rasa cara tersebut cukup menenangkan hati yang semula khawatir orang akan tersinggung jika aku menawarkan baju bekas. Dan aku juga berharap kalau memang si bapak petugas sampah itu mengambilnya, baju itu bisa lebih berguna baginya.

Itu baru soal baju bekas. Untuk barang bekas lain, tentu beda lagi penanganannya.

Barang elektronik misalnya, aku lebih milih langsung buang kalau memang sudah rusak dan tidak mungkin diservice lagi. Magic com misalnya.

Aku paling jarang ganti magic com. Paling cepat 5 tahun baru rusak dan ganti. Terakhir aku ganti magic com adalah tahun 2011. Entah rusaknya di bagian apa waktu itu. Yang jelas nasi jadi cepat kering dan menguning. Berhubung magic com itu sudah uzur, dan tampilan secara estetika juga sudah ngga enak dipandang, jadi kubuang saja setelah beli yang baru.

Tetapi aku mengambil bagian yang masih bisa digunakan dari magic com itu, yaitu bagian pancinya, karena masih bisa dipakai di magic com yang baru. Dengan begitu aku punya 2 panci magic com yang bisa dipakai bergantian. Hehe.

Selain baju dewasa dan barang elektronik bekas pakai, aku juga memutuskan membuang beberapa barang lain. Tetapi memutuskan tetap menyimpan perlengkapan bayi baru lahir dan baju anak-anak. Kadang, ada saudara yang sengaja datang ke rumah untuk memintanya.

Sering terbersit fikiran untuk tetap mempertahankannya, jadi nanti kalau punya bayi lagi ngga usah beli baru lagi. Tetapi akhirnya aku kembali yakin kalau nanti pasti ada rejeki lagi. Bukannya setiap anak yang terlahir ke dunia sudah ada jatah rejeki masing-masing?

Ada juga yang menyarankan untuk menjual barang bekas kalau memang masih bagus. Iya sih, setahun terakhir ini aku mulai mengenal grup-grup jual beli barang pre-loved di facebook. Malah beberapa kali aku tergoda dan membelinya.

Salah satu yang pernah kubeli ada baby walker merk Leap Frog. Harganya jauh lebih murah dibanding beli baru. Harga baru bisa 500 ribu lebih, sedangkan aku bisa mendapatkan dengan harga 200 ribu saja. Walau bekas tapi masih sangat bagus dan semua berfungsi normal. Senangnya.

Tetapi aku hanya sanggup membeli saja. Untuk menjadi penjual entah kenapa aku masih belum bisa. Haha. Mungkin karena aku dan keluarga besar tergolong dalam keluarga yang bukan kalangan ekonomi kuat. Jadi daripada dijual ke orang lain, masih mending diberikan ke sanak saudara. Seperti yang sudah kubilang di atas tadi, biasanya ada saudara yang sengaja datang untuk meminta baju bekas anak-anak, atau perlengkapan bayi yang sudah tidak terpakai.

Begitulah ceritaku tentang barang bekas. Ada yang kusimpan, ada yang kuberikan pada orang lain, dan ada yang harus dibuang. Jadi kepikiran, andai membuang kenangan pahit dan sakit semudah membuang benda rusak. Eaa. :)

25 komentar

  1. MBak, konon decluttering itu selain bikin ruangan lega, juga bikin hati lega loh :)

    BalasHapus
  2. hehe kalimat akhirnya gak nahan.. sama mbak, barang bekas klo gak bisa daur ulangnya lbh enak diloak, diberikan ke saudara, atau di preloved, daripd jd sarang tikus krn cuma numpuk2

    BalasHapus
  3. Rajin sekali mba..
    Beres-beres ini membutuhkan niat dan waktu yg gak sedikit. Belum lagi acak-acakannya rumah.

    Heuuheuu...
    Saya nyicil asal mau beberes.
    Dan ujung-ujubnya, saya taruh di depan rumah..biasanya suka ada yg langsung ambil.

    Semoga kebermanfaatannya berlanjut yaa, mba.

    BalasHapus
  4. Untuk barang elektronik emang suka bikin mikir baiknya gimana. Saya ngebayanginnya udah yg jauh aja, takut dibuang / diambil orang yg ngga ngerti nanti dipakai lalu menimbulkan bahaya (elektrik).. :D

    BalasHapus
  5. Kalau baju bekas, aku biasanya langsung kasih ke orang kalau masih bagus mba ;)

    BalasHapus
  6. ahahaa udah jadi hobby saya sejak kecil ngumpulin barang bekas...
    terus nanti brangnya aku bikin sesuatu yang baru... :D

    BalasHapus
  7. Aku juga banyak nih barang bekas, numpuk di gudang. Masih belum kuapa-apain. Sekarang lagi pusing mengeluarkan sofa yang rusak dari ruang tamu :)

    BalasHapus
  8. Iya Noe, aku juga. Sering beberes rumah buat sortir barang yg dah gak dipake lagi.

    BalasHapus
  9. klo diliat liat fotonya bagus yaa,, itu njepret sendiri??

    BalasHapus
  10. Saya baru tau istilah ini

    Wah kayak nya ini harus di lakukan anak kosan seperti saya yang HANYA punya 1 ruang selama hidup di perantauan.
    Beli ini itu kadang malah penuh penuhin ya hehe

    BalasHapus
  11. beres2 kalo aku sering banget nemu harta karun :D

    BalasHapus
  12. pas banget ini, Noe. Saya lagi galau beberapa hari ini urusan barang bekas. Suka gak tegaan hahaha

    BalasHapus
  13. Eaaa kalimat pnutupnya ngga tahan hihii
    Mba Noe, klo udah jarang dipakai biasanya aku keluarin dari rumah, biar ngga numpuk yaa..tapi Blum pernah ganti magic com, bentar lagi umurnya 5 tahun..

    BalasHapus
  14. setuju mba , barang2 yang gak terpakai dibuang atau kiranya bisa dikasihkan ke yg membutuhkan suka saya berikan.

    BalasHapus
  15. Beres- beres dibutuhkan niat serta tenaga yang besar, dan rapi pun cuma sebentar, si krucil bentar saja sudah memporak-porandakannya

    BalasHapus
  16. kalau aku baju-baju yang layak pakai aku kasi ke orang lain dan yang udah nggak layak aku pakai untuk kain lap dulu trus baru di buang :)

    BalasHapus
  17. Wahahaha, kalimat endingnya epik!

    Btw salah satu dilema ibu rumah tangga ya masalah gini ini ya. Beberes rumah dan barang-barang yang perasaan nggak kelar2. Dulu pas masih di Jakarta Bapakku rajin Mba ngambilin baju atau sepatu anak-anak, soalnya tetanggaku pada minta emang.

    Sekarang jauh tinggal di Palopo, aku perhitungaaan banget kalau mau beli apa-apa. Selain kalau pindah nanti biar nggak kebanyakan bawaan, bingung juga nanti barang2 bekasnya mau dikemanain.

    BalasHapus
  18. awet banget Noe, magic comnya sampai 5 tahun. Akupun suka gitu, beberes rumah trus mencoba menenangkan hati, buat dibuang atau dikasih ke orang.

    BalasHapus
  19. Asli lah!Pada fokus di closing yak? Hahahaa...
    Mbak Noe bisa aja nih! T.O.P ^^

    BalasHapus
  20. dilema kita sama.mau buang sayang, nggak dibuang sumpek

    BalasHapus
  21. emang kalau mau beberes barang itu paling banyak pro kontranya, ada kenangan, tapi udah ga kepake, serba salah jadinya hahaha. kalau untuk di daur bisa jadi alternatif juga tuh

    BalasHapus
  22. Mohon maaf kl double ya komennya... tadi sepertinya gak sengaja di-enter. Saya jg lbh milih ngasih ke orang. capek ngadepin yg nawar barang bekas yg mau dijual (padahal giliran beli sih nawarnya semangat)

    BalasHapus
  23. Kalo saya sih ngak suka buang barang2 mbak.. . pasti ada saja yang bisa saya kembangkan dari barang itu... dan alhasil kreasikupun bertambah!>..

    BalasHapus

What wasn't said, will never be heard. What wasn't wrote, will never be read. Tinggalin komentar yuk...