Rabu, 10 Agustus 2016

Ketika Anak Jatuh, Luka & Berdarah


Today is such a bad day for me. Saat dalam perjalanan berangkat kerja, Ojrahar menelepon. Dikabarkannya kalau si Kakak jatuh dari sepeda saat dalam perjalanan berangkat ke sekolah.

Mendengar kabar itu aku langsung panik. Ngga kerasa air mata malah meleleh-leleh. Dari mulutku aku cuma bisa nyabut-nyebut nama Allah, karena bayangan hal-hal yang buruk akibat kecelakaan berseliweran tak terkendali dalam fikiran.


Waktu aku tanya "trus gimana? trus gimana?", Ojrahar menjelaskan detil luka lecetnya di wajah bagian pipi, hidung dan dagu. Langsung perih hatiku. Seolah ikut merasakan betapa itu perih mukanya si Kakak. Tetapi Ojrahar berusaha menenangkan, dia bilang lukanya sudah dibersihkan dan diberi betadin. 

Mendengar kata betadin, aku langsung ingat Strong Acid Water yang ampuh untuk membunuh kuman dan membantu penyembuhan luka bagian luar dengan cepat. Aku langsung minta Ojrahar untuk membersihkan lagi luka-lukanya dan disemprot Strong Acid Water saja. 

Duh, semoga lukanya cepat kering dan sembuh. Aamiin. 

Kalau ada kejadian dan kondisi darurat kayak gini nih, aku jadi bersyukur karena ada Ojrahar. Dia tuh cepat tanggap orangnya. Tau apa yang harus dilakukan. Ngga kayak aku yang panik duluan dan malah jadi bingung sendiri. 

Tadi setelah telepon dari Ojrahar ditutup, aku malah curhat di sebuah grup Whatsapp. Ya mungkin karena ngga tau harus gimana, karena ada di dalam bis dan memang ngga bisa berbuat banyak. Aku curhat kalau si Kakak jatuh dari sepeda. Haha. Konyolnya aku. Tapi selalu ada sisi positifnya juga sih. Karena banyak yang menanggapi curhatku dan aku merasa mereka ada di dekatku padahal kenyataannya kami tinggal berjauhan. Sebut saja mba Uniek, si blogger kece yang tinggal di Semarang. Atau Mba Indah yang jauh di Amerika sana. Baik mba Uniek, dan kawan blogger lain dalam grup itu, semua mendoakan untuk kesembuhan Abyan, bersimpati dan berusaha menenangkanku agar jangan panik. 

Reaksi antara laki-laki dan perempuan sebagai bapak dan ibu ketika menghadapi situasi genting memang berbeda. Aku ingat kejadian beberapa bulan lalu, satu hari aku sedang menonton TV, sementara MasKa main di luar. Tiba-tiba Kakak pulang dengan telapak tangan kanan berdarah-darah. Dia menangis. Aku panik dan langsung berlari menghampiri Kakak yang menangis di depan pintu.

Yang ada difikiranku saat itu, itu lah yang kukerjakan. Kugendong Kakak dan membawanya lari ke belakang. Maksud hati ingin masuk ke kamar mandi dan membasuh darah di tangannya dengan air. Tetepi begitu sampai di depan pintu kamar mandi, terlintas dalam fikiranku hal lain.

Apa kubawa ke klinik saja langsung, ya? Aku pun kembali berlari ke depan bermaksud ke luar pintu rumah dan ke klinik saja. Tetapi di depan pintu aku kembali terfikir untuk melakukan tindakan P3K sendiri dulu. Akhirnya aku lari lagi ke arah kamar mandi. 

Waktu itu seingatku Ojrahar sedang tidur siang. Di depan pintu kamar mandi aku teriak-teriak memanggil Ojrahar sambil masih menggendong si Kakak.

Saat Ojrahar keluar dari kamar, aku sudah lemas. Lutut kakiku rasanya sudah ngga sanggup lagi diajak berjalan. Aku cuma bisa bilang, 

"Abi, ini si Kakak jatoh, mesti digimanain?" kataku sambil gemetar.

Tanpa banyak bicara, Ojrahar membopong Abyan dan memberi pertolongan pertama pada lukanya. Dan aku cuma bisa terpaku melihat aksi cepat Ojrahar.

Setelah P3K selesai dan aku serta Kakak mulai tenang, baru lah aku tanya apa yang terjadi. Rupanya si Kakak sedang main bola dengan teman-temannya. Saat berlari, dia jatuh dan dia reflek menggunakan tangan untuk menopang badan agar tidak jatuh terbentur. Sialnya, telapak tangannya justru mendarat pada batu-batunyang tajam. Alhasil telapak tangannya robek.

Ah, ya. Namanya juga anak-anak, ada aja yang bikin mereka sampai jatuh dan luka.

2 komentar:

  1. Sama ya, aq juga gitu bisanya tereak2 doang klo anak2ku jatuh. Utinya malahan yg sigap nolongin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenernya kita mah gk takut darah ya mba Un, cuma terlalu kuatir kenapa napa sm anak, jd malah lemes dan binghng dewe. Hoho

      Hapus

What wasn't said, will never be heard. What wasn't wrote, will never be read. Tinggalin komentar yuk...