Rabu, 17 Agustus 2016

Arti Kemerdekaan, Sekarang...


Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia. Sudah 71 tahun kita merdeka, ya. Seandainya itu adalah umur manusia, tentu sudah banyak sekali perjalanan yang dilalui. Banyak pengalaman. Banyak cerita untuk dibagi. 

Nah, kalau udah ngomongin soal pengalaman dan cerita soal kemerdekaan, aku jadi inget sama almarhum kakek dan nenekku yang pernah hidup di jaman perjuangan melawan penjajah. Aku kecil selalu mendapat dongeng tentang jaman penjajahan. Biasanya sebagai cerita pengantar tidur.


Kadang ceritanya bikin ngeri. Apalagi kalau cerita kakek yang dulunya adalah Tentara Keamanan Rakyat. Paling nyenengin kalau nenek yang bercerita. Yang paling kuingat adalah tentang apa yang hits di jaman PKI. Ganefo, katanya. 

Kejayaan di Masa Lalu


Dulu aku ngga tau apa itu Genefo. Cuma tau cerita nenek bahwa hampir semua hal punya versi ganefo, yaitu motif jajar genjang warna oranye. Mulai dari fashion seperti sendal, baju celana atau tas, sampai alat-alat dapur seperti piring, gelas, atau baskom. 

Saat menulis ini, aku kok jadi penasaran tentang apa itu Ganefo. Googling deh akhirnya. Dan aku mendapatkan sebuah fakta yang W-O-W!

Ganefo adalah singkatan dari Games Of New Emerging Forcer. Merupakan ajang pertandingan olah raga besar pada tahun 1963 yang diikuti oleh puluhan negara dari seluruh dunia. Saking besarnya ajang olah raga ini, sampai-sampai ada yang menyebut kalau Ganefo adalah tandingan dari Olimpiade. 

Awal mula adanya Ganefo adalah karena sikap keras Indonesia yang menolak Israel dan Taiwan untuk ikut dalam IOC (International Olympic Committee) atau organisasi puncak olimpiade. IOC kemudian memberi sanksi kepada Indonesia. Soekarno sebagai presiden akhirnya memutuskan keluar dari IOC dan menggagas Ganefo bersama negara-negara anggota KAA (Konferensi Asia Afrika). Pada saat itu, negara-negara ywng tergabung KAA adalah negara yang ingin terbebas dari neo-kolonialisme & imperialisme.

Indonesia menjadi tuan rumah bagi ajang Ganefo pertama. Prestasinya pun cukup membanggakan, yaitu pada peringkat ketiga. Peringkat pertama dan kedua diraih oleh RRT (Republik Rakyat Tiongkok) & USSR (Union Soviet Socialist Republic). 

Sayangnya, Ganefo kedua yang direncanakan digelar di Mesir harus gagal karena kondisi politik. Eum, kebayang ngga sih seandainya Ganefo terus ada sampai sekarang?

Dan ini aku sekarang malah merasa tambah kagum pada sosok Soekarno. Sebegitu besar pengaruh beliau, dan kekuatannya dalam menggerakkan orang banyak. Kemampuan lobi-lobi politiknya juga keren. Dia berhasil menggandeng meyakinkam USSR agar memberi bantuan dana yang digunakan untuk membangun sarana olah raga sebagai persiapan Ganefo. Gelora Bung Karno, dan beberapa sarana olah raga lain, serta infrastktur Jakarta berhasil dibangun. 

Arti Kemerdekaan


Membaca sejarah tentang sosok Soekarno itu, ngga heran deh kalau pada masanya, Indonesia menjadi salah satu negara yang ditakuti.

Sekarang bagaimana? Yang kulihat, di momen kemerdekaan Indonesia ke 71 ini, sedang ramai masalah dwi kewarga-negaraan dan drama-drama terkait, serta berbagai spekulasi yang muncul ke permukaan. Ah, tiba-tiba merasa sedih.

Apa lagi ada yang menduga bahwa Archandra adalah penyusup, yang selama 20 hari menjabat ia sudah mulai mengotak-atik soal Freeport. Otak-atik apa sih? Ini mengungkap kebenaran atau tuduhan semata? 

Aku sebagai rakyat kecil kadang malas menonton berita. Tambah pening dan membuat merasa seolah negeri ini belum merdeka. Perang di mana-mana, tetapi bukan perang fisik dengan angkat bambu runcing sebagai senjata.

Berhenti menonton TV yang menyiarkan debat kusir soal rumitnya persoalan negara kadang ada baiknya. Juga berhenti membaca berita online yang kelebihan bumbu penyedap. Lalu diam dan no comment saja jika ada yang mengajak bicara soal politik atau pemerintahan dan hal-hal yang membuat makin pusing.

Mengapa? Karena aku manusia. Aku rakyat biasa. Aku butuh butuh merdeka. Dan merdeka buatku sederhana saja. Saat ada beras untuk di makan esok hari bersama keluarga, itu merdeka. Saat ada cukup uang di dompet untuk membeli token listrik, agar anak-anak bisa mengerjakan PR sekolah dengan penerangan di malam hari. Atau saat aku bisa membawa mereka berobat ke dokter ketika sakit, di sana lah kemerdekaanku. 

Dan aku berjuang dengan segenap jiwa dan raga untuk itu. Sebutlah itu kemandirian.

Aku yakin, kemandirian rakyat kecil adalah salah satu cara terbaik untuk mengisi kemerdekaan yang pernah ditebus oleh darah para pejuang jaman dulu. Juga salah satu cara terbaik untuk membantu jalannya pemerintahan saat ini. 

Demikian.

16 komentar:

  1. saya curiga itu anak yang di jadiin model artikel di foto nya pas di atas pinang yang ia panjat soalnya kaya yang ada di ketinggian dan memegang bendera merah putih, pasti di kiri kanan nya banyak hadiah tuh :) hhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, bukaan. Itu anakku lg di atas kapal kayu waktu jelajah pulau di sekitaran Krakatau ;)

      Hapus
  2. Masing-masing memiliki makna terdiri tentang arti kemerdekaan ya mba :)

    BalasHapus
  3. YUPP..
    kata kuncinya MANDIRI :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naah, ini dia penggerak generasi muda untuk mandiri. Bravo Icus!

      Hapus
  4. NKRI harga mati, semoga indonesia lebih merdeka dari segala hal

    BalasHapus
  5. Semoga benar benar merdeka ya mbak baik Indonesia maupun dari segi masyarakatnya :)

    BalasHapus
  6. Bersyukur sekali ya Mba kita kita berada dialam kemerdekaan.. Olehkarenanya kita patut mengisinya dgn hal2 yg bersifat membangun tentunya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pastinya mbaa, mulai diri sendiri, mulai dari hal2 kecil dan sederhana untuk selalu melakukan hal positif.

      Hapus
  7. kurang lebih sama sih mba Noe, buat aku kemerdekaan ya salah satunya kemerdekaan finansial, nggak mesti berlebih, yang penting cukup dan bahagia :)

    BalasHapus
  8. Listrik mahal mak hahahahaaa... Semoga pemerintah nggak ribut2 melulu, kerja yg bener, biar rakyat happy.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iyaak. Kan namanya kabinet kerja, jd memang hrs kerja kerja kerja :p

      Hapus

What wasn't said, will never be heard. What wasn't wrote, will never be read. Tinggalin komentar yuk...