Kamis, 31 Maret 2016

Sawah, Sekolah Kehidupan Semasa Kecilku


Bicara soal unforgettable moment ketika masih kecil, maka yang paling pertama muncul dalam ingatanku adalah tentang aku kecil yang senang main di sawah, sementara kakek dan nenekku sibuk dengan tanaman padinya. 

Ceritanya, sejak bayi aku diasuh oleh kakek dan nenek yang mata pencahariannya adalah bertani. Kakek & nenek selalu mengajakku ke sawah maupun ladang jika harus mengurusi tanamannya. Itu karena tidak ada paman atau pun bibi yang bisa menjagaku.

Tetapi dasar anak kampung, aku ya asik-asik aja di ajak ke sawah maupun ladang. Ngga ada ceritanya rewel, ngeluh panas, atau apa. Aku malah senang.

Biasanya kalau di sawah, aku bermain di gubuk sementara kakek dan nenek turun ke sawah. Mainanku waktu itu boneka. Bonekaku bukan boneka biasa lho! Kakekku yang membuatkannya. Terbuat dari pelepah pepaya untuk bagian badan boneka dan daun pisang sebagai rambutnya.

Lain lagi jika di ladang. Mainanku biasanya boneka wayang yang terbuat dari tangkai daun singkong. Tentu saja kakekku juga yang membuatkannya. Duh, jadi kangen pulang kampung. Walau sayang, kakek & nenekku sudah berpulang. Tinggal pusaranya yang bisa kuziarahi. Karena sawah & ladang pun sudah habis terjual.


Segalanya memang sudah berbeda sekarang. Tetapi tidak dengan kenangan. Sekarang, setiap kali melihat sawah dengan gubuknya, atau melihat ladang dengan aneka tanamannya, ingatanku langsung terbang ke masa kecil dulu. 

Kemudian juga teringat pada kakek & nenek yang sudah mengajariku banyak hal tentang kehidupan. Aku ngga pernah bisa lupa, sejak kecil, sampai kemudian tumbuh menjadi anak-anak dan remaja, sawah dan ladang menjadi sekolah pertama buatku. 

Aku melihat bagaimana kakek & nenek bergelung dengan peluh, di dalam lumpur ditimpa terik. Sambil tetap mengasuhku penuh kasih sayang. Sebentar-sebentar mereka akan mengecek apakah aku baik-baik saja bermain sendirian di gubuk. 

Saat matahari telah tepat di atas kepala, mereka keluar dari tengah sawah. Mencuci tangan dan kaki. Lalu mengajakku makan makanan bekal dari rumah. Nikmat sekali.

Sambil makan, kakek & nenek biasanya mengajakku berbincang. Entah sekedar bertanya, "enak ngga makannya?" Tetapi kemudian pertanyaan itu diikuti dengan cerita bahwa nasi yang kami makan adalah hasil dari sawah. Dari bibit yang ditanam lalu tumbuh, berbuah, dan menghasilkan padi. Saat menguning, padi dipanen, digiling menjadi beras, lalu dimasak dan dimakan. Sebagian hasil panen dijual dan hasilnya untuk membeli sayur dan lauk.

Ah, rupanya kakek & nenek ingin aku belajar dan memahami, bahwa segalanya butuh proses, dan hawa hidup adalah perjuangan.

6 komentar:

  1. Ceritanya membuatku melayang ke mertuaku mbak. Sebagai orang kota, memiliki suami orang desa ternyata membuat hidupku lbh berwarna. Hidup petani!!!

    BalasHapus
  2. Aku ga perna main di sawaaah.. Tapi anakku kalo diajakin ke rumah buyutnya di desa suenengnya minta ampuuun! Bisa seharian di sawah ga pulang2 :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, Ara... Nikmati lah masa kecilmu di sawah yook

      Hapus
  3. Aku ke sawah kalau pulang ke Sukabumi.. Abis nyawah berenang di empang ehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di empang berenang? Wew! Haha.. Nangkep ikan ajaa

      Hapus

What wasn't said, will never be heard. What wasn't wrote, will never be read. Tinggalin komentar yuk...