Jumat, 18 Maret 2016

Jadi Ibu Ngga Boleh Sakit!


Sebagai seorang ibu, punya anak yang tumbuh sehat dan ceria tentu menjadi kebahagiaan yang tiada tara. Dan saat mereka jatuh sakit, kebahagiaan itu bisa terenggut seketika. Walau itu hanya flu sekalipun. Seperti yang baru saja kualami. Ketiga anak lelakiku terserang flu.

Paling sedih saat melihat si bungsu yang masih bayi. Serba salah sekali dia. Hidung mampet, tetapi perutnya lapar. Jika menyusu, jadi sulit bernafas. Bagaimana mau bernafas? Karena mulut yang harusnya menggantikan fungsi hidung, justru harus digunakan untuk menghisap asi. Akhirnya dia hanya bisa menangis. Duh, nelangsanya hati ini sebagai ibu.

Ingin rasanya menggantikan posisi mereka. Biar aku aja yang sakit. Tapi aku ingat ibuku pernah berpesan, "jangan pernah berdoa untuk memindahkan sakit dari orang-orang yang kamu sayangi kepada dirimu" katanya.

Lho, kenapa? Aku heran. Ibuku bilang, "seorang ibu itu harus tetap sehat supaya bisa merawat keluarga".

Ah, iya juga. Kesehatan memang mahal harganya. Kalau sudah sehat, kenapa berdoa supaya sakit? Yang sakit saja susah payah berusaha untuk sembuh. Seperti ibuku yang memiliki masalah hipertensi.

Dihantui Hipertensi


Bisa dibilang, hipertensi adalah penyakit menurun di keluarga besar kami. Kakek dan nenek dari ibuku juga hipertensi. 5 dari 7 anaknya juga memiliki masalah yang sama, termasuk ibuku. Bahkan pertengahan tahun 2011 lalu, aku juga sempat mengalami masalah yang sama.

Tahun 2011 memang tahun-tahun yang sulit buatku. Aku mengalami stres berat sehingga berakibat pada naiknya tekanan darah dan menetap selama 3 bulan. Waktu itu tensiku sampai 145/90. Dokter dan suster di klinik perusahaan tempatku bekerja mewanti-wanti, "jangan stres terus, atau tensimu menetap dan ngga bisa turun lagi ke angka normal seperti biasanya!".

Dokter dan suster yang menanganiku memang tau penyebab tingginya tensi darahku. Mereka bukan saja jadi tempatku untuk melakukan konsultasi kesehatan. Tetapi juga menjadi teman untuk berbagi cerits. Tak heran jika mereka juga tau penyebab stres yang kualami. Untuk alasan itu mereka tidak memberiku obat khusus untuk darah tinggi. Aku hanya disarankan untuk mengatasi stres, memilih berbahagia, diimbangi dengan gaya hidup sehat dan olah raga.

Berbeda dengan ibuku yang memang sudah menderita hipertensi sejak lama. Sekarang ibuku harus minum obat setiap hari untuk menjaga tensinya tetap normal. Selain obat, ibuku juga rajin mengkonsumsi ramuan herbal. Entah itu kapsul jintan hitam, air rebusan daun sirsak, mahkota dewa, daun dewa, dan herbal lainnya secara bergantian dan berkala.

Aku agak heran juga sih melihat ibuku dalam upaya pencegahan kambuhnya penyakit hipertensi yang dideritanya. Dalam sebulan berturut-turut, ibuku bisa minum air rebusan daun sirsak setiap hari. Bulan berikutnya ganti daun dewa. Bulan berikutnya lagi ganti lagi dengan herbal apa saja yang dipercaya bisa membantu mencegah penyakitnya kambuh. Dulu seingatku, ibu rajin nonton acaranya Dokter Hembing di TVRI yang memang banyak membahas manfaat herbal untuk kesehatan. Dan ibuku mengikuti saran-saran dari acara TV itu.

Luar biasa sekali memang, perjuangan ibuku untuk tetap sehat. Hanya yang kusayangkan adalah satu hal. Ibuku masih mudah mengalami stres. Terutama jika menghadapi masalah yang berhubungan dengan anak-anaknya. Kangen cucu, stres. Anak bujangnya pergi main dan ngga pulang berhari-hari, stres. Dan persoalan lainnya yang memicu stress. Khusus untuk masalah ini, dibutuhkan kerja sama seluruh anggota keluarga untuk mengurangi pemicu stres pada ibuku.

Aku dan ibuku

Kondisi terburuk yang pernah dialami ibuku adalah stroke ringan. Tubuhnya mati rasa sebelah walau masih bisa digerakkan. Ini terjadi sekitar tahun 2007. Sedih sekali rasanya melihat ibuku sakit seperti itu. Ketika itu pulalah ibuku berpesan tentang pentingnya sehat. Tentang betapa semua upaya yang ia lakukan untuk tetap sehat adalah karena ingin berumur panjang. Bukan sekedar agar bisa mengurus keluarga, tetapi juga karena ingin bisa melihat anak-anaknya tumbuh. Ingin merasakan bahagianya menimang cucu, serta momen-momen bahagia lainnya dalam hidup.

Menginat peristiwa itu, aku tak mau lagi meminta Tuhan untuk memindahkan sakit dari anak-anakku kepadaku. Sejak beberapa hari lalu ketika satu persatu anak-anakku terkena flu karena faktor perubahan cuaca, aku berusaha agar penyakitnya segera sembuh. Istirahat yang cukup, makan-makanan sehat, perbanyak buah dan cairan. Saat demamnya tinggi, aku memberinya obat penurun panas. Terutama untuk Daffa' yang punya riwayat kejang pada usia 2 tahun.

Khusus untuk Ranu yang baru berusia 7 bulan, aku hanya memberinya balsam khusus bayi dan dijemur sinar matahari pagi. Juga tetap berusaha memberinya banyak asi.

Alhamdulillah, kekebalan tubuh anak-anakku tergolong baik. Setelah dua hari, Daffa' & Abyan sudah tidak demam lagi. Begitupun bayi Ranu yang berangsur sembuh. Aku percaya, salah satunya karena aku bisa menyusui anak-anak sejak hari pertama lahir, sehingga mendukung sistem imun dalam tubuhnya. Selain itu, aku juga tidak anti terhadap vaksinasi. Aku rajin membawa anak-anak ke posyandu untuk mendapat imunisasi wajib dari pemerintah.

Satu lagi yang tak kalah penting untuk dicatat, bahwa aku bisa menjalani hari sebagai ibu hanya jika aku sehat. Dan untuk tetap sehat, berarti aku harus disiplin dalam melakukan pencegahan agar tidak sakit. Apalagi aku juga memiliki risiko hipertensi jika mengingat riwayat keluarga.

Pertanyaannya, bagaimana caraku untuk mengurangi risiko hipertensi? Utamanya adalah dengan mengelola stres dan gaya hidup sehat.

Mengelola Stres


Stres memang dibutuhkan oleh tubuh agar kita terpacu untuk menjadi lebih baik. Seperti yang pernah ditulis juga oleh Dr. Kristoforus dalam akun twitternya. Tetapi, stres yang berlebihan dan bertahan lama justru membahayakan.


Saat stres, tubuh melepaskan hormon adrenalin dan kortisol. Jika berlebihan, hormon tersebut bisa menjadi racun bagi organ tubuh lain sehingga daya tahan tubuh menurun. Juga mempengaruhi sistem dalam tubuh dan menyebabkan hipertensi, stroke, serangan jantung, dan banyak pentakit lainnya.

Dokter yang menanganiku saat stres dulu menyarankan agar aku tidak terlalu tenggelam dalam masalah. Memperbanyak aktifitas dan bertemu banyak orang. Karena jika menyendiri, justru membuat kita semakin larut memikirkan masalah dan bisa berujung depresi. Well, sejak itulah aku mulai mencoba traveling, lalu mengenal blog, dan memiliki banyak teman. Sekarang, aku punya banyak media untuk menyalurkan stres, dan hidupku lebih bahagia.

Gaya Hidup Sehat


Jujur, poin ini masih sulit buatku. Apalagi untuk urusan olah raga. Haha. Tapi sedikit demi sedikit aku mulai belajar. Dengan banyak minum air putih, makan makanan sehat, mengurangi minum kopi, dan tidur cukup. Khusus untuk suami, aku memintanya stop rokok.

Untuk olah raga memang belum dilakukan secara serius. Tetapi jalan kaki dari rumah ke jalan raya setiap pagi selama 10 menit lumayan lah kalau boleh masuk hitungan. Ke depannya semoga bisa ditambah durasinya. Kalau bisa sih plus jogging. Sebab jalan kaki dan jogging adalah jenis olah raga yang simpel banget tapi ampuh untuk menjaga kesehatan, terutama jantung. Okesip!

***

Referensi:

  • Mengenal Hububgan Stres dan Depresi Dengan Penyakit Jantung. Diakses tanggal 17 Maret 2016. https://www.tanyadok.com/artikel-kesehatan/mengenal-hubungan-stres-dan-depresi-dengan-penyakit-jantung
  • Tekanan Darah Yang Normal Pada Wanita. Diakses tanggal 17 Maret 2016. http://www.carakhasiatmanfaat.com/artikel/takanan-darah-yang-normal-pada-wanita.html

17 komentar:

  1. Mbak..sherlock juga udah seminggu nih bapil. Dan kalau dia sakit, I did the same thing, mending aku yang sakit. Tapi terus mikir kalau aku yang sakit, siapa yang rawat dia? malah makin repot. Yaudah ga jadi doa jelek. Ganti doa untuk kesehatan buat semua.
    Btw, traveling itu obat lho (asalkan tagihan lunas :p)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha.. Pernyataab terakhirmu itu nampol banget Len. :D

      Hapus
  2. Aku pun kadang suka malas olahraga

    BalasHapus
  3. Jogging bisa jadi referensi setelah tidur Mbak Noe. Dl aku males ampun2an buat olahraga. Nyari2 olahraga yg bersahabat jugak. Kecup buat baby Ranu ya :)

    BalasHapus
  4. I had been there,Noe. Si Mbak pada pulang kampung, anak 4 sakit semua, bunda yang ngurusin serasa copot nih pinggang, tapi kasih sayang menguatkan semua otot-otot yang ada dalam tubuh. Btw your Mom is still very young, Noe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bunda, cinta menguatkan yaa. :)

      Hapus
  5. Aku malah lebih rentan sakit daripada anakku, mba :( saudarakupun blang demikian. Jadi ibu jangan mudah sakit. Smoga sehat selaluu. Amiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mba, smoga sehat selalu yaaa

      Hapus
  6. Kalau bisa semuanya jangan ada yang sakit ya Mbak hehe
    saat musim tidak bisa diprediski seperti saat ini, menjaga kebersihan, kesehatan dan pola hidup sehat memang penting. Kalau tidak bisa repot saat anggota keluarga ada yang saki...

    Dedek Ranu lucu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, tapi virus flu mmg mudah menular walau kdg kita udah sangat menjaga diri yaa. Asal penangan tepat insyaAllah cpt sehat lg

      Hapus
  7. Aku juga belum disiplin olah raga, kepenginnya sehat, hahaha.
    Sementara sama saja, nggak boleh sakit kaena mertua sudah sepuh, dua hari sekali antar ke dokter

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perjuangan menantu ya mba, semoga semua sehat di klrg mu. Aamiin

      Hapus
  8. harus sehat trus, ibu sakit yg lain berantakan ya di rumah

    BalasHapus
  9. Dokterku pernah blg... sakit itu 20 persen penyakit 80 persennya dr pikiran/perasaan. Jd jgn stress... sakit ringan ditmbh stress bisa jd penyakit serius. Yuk belajar trus mengelola pikiran dan perasaan plus hdp sehat krn kita seorang ibu gak boleh sakit. Gemess deh liat bungsumu mak...sehattt ��

    BalasHapus

What wasn't said, will never be heard. What wasn't wrote, will never be read. Tinggalin komentar yuk...