Jumat, 12 Februari 2016

Menumbuhkan Rasa Saling Menyayangi


Salah satu yang membuat hati kita sebagai orang tua merasa bahagia, adalah ketika melihat anak-anak hidup rukun. Akur dan saling menjaga sesama saudara. Dan sepertinya itu yang kurasakan saat melihat foto-foto dalam postingan ini.

Foto-foto ini diambil di halaman Museum Negri Banten, dua minggu yang lalu. Mamas & Kakak yang tengah asik bermain, tak sadar bahwa ada mata kamera yang membidik mereka. Itulah sebabnya expresi mereka dalam foto sangat natural, inosen, dan tidak dibuat-buat.


Aku menangkap ada ikatan kasih sayang yang kuat antara dua kakak beradik itu. Saling membantu dan menjaga. Memberi contoh dan berbagi kesenangan. Ada fikir yang bekerja memecahkan masalah dan bahu membahu mencapai tujuan. 

Aku membayangkan, sepuluh, atau dua puluh tahun yang akan datang, apa reaksi mereka saat melihat foto itu?

Entah. Satu yang pasti, hidup mereka pasti sudah sangat berbeda. Mereka sudah dewasa. Salah satunya mungkin sudah berkeluarga(?), dan satu lainnya masih duduk di bangku kuliah. Cara berfikir dan apa yang mengisi fikiran mereka juga pasti sudah semakin kompleks. Tidak lagi berisi; besok kita akan liburan kemana, mendapat hadiah apa jika aku menjadi anak baik, atau angan-angan makan es krim, atau keinginan main air di waterpark. Ya, sepuluh atau dua puluh tahun lagi, fikiran mereka tidak akan sesederhana itu lagi.

Doaku, menjadi apa dan seperti apapun kehidupan mereka kelak, semoga tetap berada di jalur yang benar. Menjadi generasi yang soleh dan dijauhkan dari keburukan atau jalan sesat. Dan semoga mereka tetap terus saling menyayangi dan mengasihi. Agar damai selalu hati seorang ibu yang telah melalui perjalanan panjang. Mulai dari mengandung, melahirkan, mengasuh dan mendidik. Aamiin.

Kembali ke foto lagi. Beberapa foto di atas terlihat Mamas yang sedang mendukung Kakak untuk bisa meraih akar gantung. Pemandangan serupa juga terjadi di beberapa tempat lain saat kami traveling. Salah satunya adalah ketika di Anak Gunung Krakatau.

Sekali lagi aku mau bilang, itu adalah refleksi kasih sayang antar saudara.

Pernah ada pertanyaan dari teman, bagaimana mengajari mereka sampai bisa akur dan kompak begitu? Pertanyaan itu tentu membuatku berfikir. Dan aku berusaha mengingat-ingat, apa yang sudah kulakukan untuk membuat mereka saling menyayangi?

Memberi Contoh & Membiasakan


Mungkin semua berawal dari jarak usia Mamas dan Kakak yang tidak berbeda jauh. Hanya terpaut 2 tahun saja. Ketika Kakak lahir, usia Mamas yang belum genap 2 tahun tentu masih membutuhkan banyak perhatian. Dan itu membuatku harus lebih banyak memperhatikan Mamas dibanding si Kakak yang baru lahir. Apalagi wakyu itu Mamas sempat kena step. Makin lah fia butuh perhatian extra.

Kakak bersamaku hanya jika ia sedang ingin menyusu. Selebihnya, ia diasuh tetangga depan rumah yang kebetulan sudah 5 tahun menikah namun belum punya keturunan.

Di waktu tertentu jika kami sedang berkumpul, aku juga melibatkan Mamas untuk ikut mengurus adik bayinya. Kebetulan Mamas kan sudah bisa jalan dan lari-lari. Sudah pintar meniru apa yang ia lihat. Jadi aku ajak dia untuk melakukan semua hal yang bisa ia lakukan. Misal mengambil popok bayi, atau menaruh bekas ompol ke tempat cucian. Saat melakukan itu bersama, tidak lupa aku mengajaknya bicara.

"Mamas pinter, yuk kita ambil popok buat adik bayi, yuk!" atau, "ke belakang yuk, taro bekas ompol ke tempat cucian!" 

Setelah terbiasa, Mamas balita sudah tak perlu ditemani lagi. (Baca: sudah bisa dimintai tolong). Maka kalimat ajakan pun berubah menjadi "Mas ambilin popok dede, sayang!" Hehe, pemanfaatan banget ini mah. :p

Menceritakan Kembali


Entah Mamas ngerti atau ngga apa yang aku ceritakan saat dia baru berumur 2 tahun itu. Saat berdua, aku coba bercerita bagaimana dulu dia bayi. Disusui, digendong, ditimang. Untuk membantunya lebih mudah mengerti, aku mencetak foto-foto si Mamas ketika dia masih bayi. Lalu kutunjukkan foto-fotonya sambil bercerita hal yang sama berulang-ulang. Bahwa dulu dia pernah bayi, disusui, digendong, disayangi. 

Begitu juga setelah mereka sama-sama tumbuh menjadi balita dan anak-anak. Kuceritakan lagi bagaimana mereka dulu waktu bayi. Bagaimana Mamas ikut membantuku mengambilkan popok untuk si Kakak. Dan cerita lain yang bisa mengundang rasa terima kasih Kakak kepada Mamas. Sekaligus memuji Mamas agar dia bahagia dan terus terdorong menjadi anak baik. Juga memberi contoh kepada Kakak agar tergerak untuk menyayangi adik bayinya (Ranu). Hehe, modus lagi untuk minta tolong-tolong. 

Apa lagi ya yang sudah kami lakukan dan lewati bersama, yang membuat si Mamas & Kakak bisa begitu kompak dan saling menyayangi? Lha aku sendiri malah bingung. Disyukuri saja dulu. Alhamdulillah... Dan berdoa semoga tetap terjaga. Aamiin... 

21 komentar:

  1. Seru yah saling tolong menolong..hehe..

    BalasHapus
  2. ponakanku kdg main bertengkar. beda kasus soalnya cewe cowok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Noe berkata...
      Hihi, mamas & kakak juga kadang berantem siih, tapi ngga sampe heboh. Masing-masing nangis sendiri karena nahan marah tp ngga mau mukul apalagi adu jotos :D

      Hapus
  3. Senang deh melihat anak2 mainnya akur kayak gitu. Dulu aku juga pernah main di bawah pohon beringin yg gedenya kayak gitu Mba..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, jadi mengenang masa kecil ya mba Rita

      Hapus
  4. Mba Noe anaknya udah tiga toh... Tapi masih imut ajah

    BalasHapus
  5. Mba Noe anaknya udah tiga toh... Tapi masih imut ajah

    BalasHapus
  6. Kalau lg akur emang enak bngt ya mak hehehe

    BalasHapus
  7. aamiin, semoga tiga bocahku juga bisa terus akur dan saling menyayangi dan menjaga :)

    BalasHapus
  8. Iya bener..seru jika kita diam2 mengamati anak2 bermain apalagi mengabadikannya dalam foto atau video

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi.. Jadi paparazi buat anak sndiri ya mba Ade :v

      Hapus
  9. Walau naeema blum punya adik, skr pun mulai aq ceritakan kembali bagaimana dia bayi. Dan karena ade ku tinggal dirumah sebelah dan punya anak yg usianya beda 4 tahun, naeema sudah diajak terlibat dalam menjaga ade ya itu.

    Setuju Mba, membiasakan dan menceritakan kembali penting agar anak tidak kaget ketika perhatian mulai terbagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mau gk mau perhatian kita suka lbh banyak ke bayi ya. Gawaat klo smpe kakaknya cemburu buta, adik bayi bs dicubitin biar nangis, demi cari perhatian. Hoho

      Hapus
  10. Bntr lg anakku jg punya adek nih.. Dr awal sih udh aku bilang kalo dia bkl punya adek, trs kita berdua ngelengkapin keperluan2 adeknya, malah kdg aku suka nanya pendapat si kaka, baju adek bgs yg ini ato yg ini yaa.. Jd dia ngerasa ga diabaikan juga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah senangnya yaah, pasti si kk skrg ikut antusias dan nanti bakal Sayamg bgt sama adeknyaa

      Hapus
  11. maska mau naik pohon hait-hati yaaa

    BalasHapus

What wasn't said, will never be heard. What wasn't wrote, will never be read. Tinggalin komentar yuk...