Senin, 11 Januari 2016

JD Kids, Teman Baru Anakku Untuk Backpacking


Salah satu alasan mengapa aku menyenangi kegiatan backpacking bersama anak-anak adalah karena saat backpacking aku bisa melihat mereka bebas bermain di alam. Mereka belajar banyak hal, tidak hanya tentang hal-hal baru yang dilihatnya. Tetapi juga belajar mandiri, berempati dengan teman seperjalanan, belajar bersabar dan tetap melangkah saat mencapai tempat tujuan, meski rasa lelah sudah pasti menghampiri.

Aku ingat dulu, ketika aku baru mulai mengenalkan backpacking pada Daffa' & Abyan. Mereka belum terbiasa jalan kaki jarak jauh. Aku yang harus bersabar dan menguatkan otot karena harus menggendong Abyan yang saat itu masih balita. Di beberapa trip yang medan-nya sulit seperti Baduy, aku tentu tak sanggup jika harus menggendong. Solusinya adalah dengan menyewa jasa porter.

Tetapi sekarang lain. Daffa' & Abyan sudah bukan balita lagi. Apalagi sekarang sudah ada Ranu yang menjadi bungsu di keluarga kami. Saat backpacking, sekarang yang nemplok di badanku adalah Ranu, si chubby baby yang belum bisa berjalan.

Senang memperhatikan anak-anak dari belakang saat backpacking

Sambil mengatur nafas karena lelah menggendong bayi seberat lebih dari 8 kilogram, aku tetap berjalan saat backpacking. Mengikuti langkah para lelaki di depanku yang sudah tidak manja lagi. Senang rasanya melihat Daffa' & Abyan bersama Abi-nya, berjalan menyusuri trotoar, membicarakan hal-hal baru yang dilihatnya sepanjang jalan. Tentang lampu-lampu kota, papan penunjuk arah, gedung-gedung bersejarah, patung pahlawan, lampu lalu lintas, dan banyak lagi. 

Atau ketika hiking di alam. Sambil melangkah, topik pembicaraan mereka bisa berisi warna-warna daun, angin, atau pertanyaan-pertanyaan yang tak jarang membuat kami sebagai orang tuanya harus memutar otak mencari jawaban. Mereka bertanya tentang "angin terbuat dari apa?", bertanya "bagaimana bisa ada hujan", juga pertanyaan "dari mana datangnya petir".

Ya, melihat para lelakiku itu melangkah bersama, sambil berbincang dan belajar menjadi kebahagiaan tersendiri buatku.

Hal Yang Mengganggu Ketika Backpacking

Namanya juga hidup, akan selalu ada kejadian yang tidak menyenangkan. Begitu juga saat backpacking, ada saja hal yang mengganggu. Salah satu gangguan itu adalah ketika sandal yang dipakai anak-anak putus. Cukup sering kami mengalami kejadian ini. Baik itu saat jalan-jalan keliling kota, maupun saat trekking masuk ke hutan. Berikut ini beberapa foto insiden sandal putus ketika backpacking. 

Juli 2014: Insiden kesandung dan tali sandal putus di Surabaya
Mei 2013: Insiden sandal putus di Petrosains - Malaysia
Juni 2013: Trekking di Baduy. Bisa dilihat sandal Daffa' yang kanan tidak ada talinya karena putus di jalan.

Perihal tali sandal anak yang putus ini bisa disebabkan beberapa hal. Seperti kualitas bahan sandal yang kurang baik, dan jahitan yang kurang kuat. Sehingga pernah satu hari, saat kami sedang backpacking di kota Surabaya, kaki Abyan tersandung hingga jatuh, dan tali sandal yandi bagian tumitnya putus. Padahal sandal itu baru kubelikan sehari sebelum kami pergi backpacking ke Surabaya. Kami langsung bingung mencari toko sandal dan sepatu saat itu juga.

Temanku itu bilang, sebaiknya memakai sepatu saja saat backpacking, supaya lebih nyaman. Dan kalau bisa pilih sepatu yang berkualitas, yang memang didisain khusus untuk kenyamanan. Hm..., selama ini aku memang lebih suka pakai sandal untuk segala kondisi. Entah itu jalan-jalan keliling kota, maupun hiking di alam bebas. Baru sekarang mulai sadar kalau tidak semua suasana cocok memakai sandal. Fixed! Berarti aku butuh beli sepatu yang berkualitas nih untuk anak-anak.

Tips Memilih Sepatu Yang Baik


Sebelum memutuskan membeli sepatu, aku membaca banyak artikel tentang tips memilih sepatu. Setidaknya, sepatu yang berkualitas harus memenuhi syarat sebagai berikut:
  • Mengikuti bentuk kaki pemakainya sehingga nyaman saat digunakan untuk melangkah, berlari, atau saat melompat.
  • Bagian depan tidak sempit sehingga jari kaki tidak saling berhimpit dan terjepit. Ini bisa menyebabkan sakit bahkan luka lecet pada jari kaki. 
  • Bahan sepatu memiliki pori-pori, atau pilih sepatu yang disain-nya memiliki sirkulasi udara yang baik, agar kaki tetap terjaga kenhamanan dan kesegarannya. 
  • Pilih sepatu sesuai kebutuhan. Misal, jika untuk hiking, sebaiknya pilih sepatu khusus outdoor yang lebih safety, karena alas sepatunya memiliki grip agar tidak licin saat berjalan di tanah atau jalan berbatu yang licin saat hujan. Atau jika untuk keliling kota, bisa pakai sneakers atau sepatu olah raga. 

Selain keempat syarat di atas, menurutku ada satu lagi yang menjadi pertimbangan saat membeli sepatu, yaitu desain yang trendi. Dan salah satu brand yang memenuhi kesemua syarat termasuk soal desain yang trendi adalah JD Kids Shoes.


Langkah Si Kecil Makin Nyaman & Stylish Bersama JD Kids Shoes


Ok! Bisa dibilang aku ini telat mengenal JD Kids Shoes. Sekarang saat aku baru mulai sadar kalau aku harus beli sepatu khusus untuk anak-anak, supaya nyaman dipakai backpacking, ternyata sudah tidak ada ukuran yang pas untuk Daffa'. Mengapa? Karena JD Kids hanya memproduksi sepatu anak untuk umur 1.5 sampai 7 tahun. Sementara Daffa' sekarang sudah berumur 9 tahun, dan ukuran sepatunya sudah sama denganku, yaitu nomor 37. Eh, tapi kalau Abyan masih bisa karena tahun ini dia baru berumur 7 tahun, dan masih bisa pakai sepatu dengan nomor 35.


Satu lagi yang membuatku tak sabar adalah menunggu Ranu sampai bisa jalan dan memakai sepatu koleksi JD Kids Shoes yang nyaman dan trendi. Aku tak sabar memakaikan sepatu warna silver kombinasi oranye pada kaki Ranu. Atau untuk Abyan dengan warna merah kesukaannya. Aku dan Ojrahar memang senang dengan warna-warna terang dan mencolok saat memilih baju atau sepatu untuk anak-anak. Mungkin kesukaan Abyan dengan warna merah juga dipengaruhi olehku yang sering memilihkan warna itu untuknya sejak bayi.

Berbeda dengan Daffa' yang justru sudah mulai menemukan dirinya sendiri. Untuk sepatu, dia lebih suka warna-warna elegan seperti coklat atau hitam. Andai dia masih bisa pakai sepatu ukuran nomor 35, dia pasti senang jika kuminta memilih sepatu sendiri di katalog produk JD Kids. Sama seperti Abyan yang begitu excited memilih sepatu warna merah di blibli.com, salah satu toko online terpercaya di Indonesia. Begitu pun aku & Ojrahar yang bisa asik berdua memilih sepatu bayi untuk Ranu kalau sudah bisa jalan nanti.

Daffa' jatuh cinta dengan sepatu JD Kids warna coklat muda.

Well, design sepatunya yang pop art dengan berbagai pilihan warna, membuat JD Kids menjadi merek pilihan keluarga dengan berbagai karakter dan kegemaran berbeda. Apalagi design tersebut diperbaharui setiap 3 bulan sekali. Artinya, setiap 3 bulan akan keluar sepatu dengan model dan warna-warna baru. Keren, ya!

Dan yang pasti, ketiga anakku akan merasa nyaman saat backpacking memakai sepatu dari JD Kids, dan bisa tampil lebih stylish dengan warna-warna kesukaan masing-masing.

24 komentar:

  1. warna mencolok biar cerah ya, mudah-mudahan gak putus lagi ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa hihi, suka warna mencolok biar keciri :v

      Hapus
  2. Sepatu jd kids memang trendy ya mbak, semoga terwujud ya aamiin

    BalasHapus
  3. Aduuh...kalau talinya putus pas trekking paling susah, ya. Secara, jarang banget yg namanya bawa serep utk sendal.

    Wuwuwwu...itu warna orens kesukaanku. Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa, ciloko dua belas klo sendal putus pas treking, haha.. aku sm anak2 sering, dan gk kapok2nya. haha *jangan ditiru

      Hapus
  4. Nah pas ini mau cariin alas kaki buat Faris, intip JD Kids aaahhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa, mumpung diskon tuuh di blibli.com ;)

      Hapus
  5. kasian kalo anak anak sampe ga nyaman dijalan karna sepatunya rusak.

    BalasHapus
  6. Traveling bareng bocah? Wah, ngga kebayang. Hehe.. Emak2 canggih nih, Mbak Nurul. Sampai printilan mereka traveling pun detail dipersiapkan. :-)

    BalasHapus
  7. Waah ngiler liat sepatunya :)

    BalasHapus
  8. anak-anakmu itu beruntung punya orang tua yang hobbi backpackeran seperti dirimu Noe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduuh, aamiin ya Allah. makasih mba Ade :l

      Hapus
  9. Sepatu yang nyaman dan kuat memang paling cocok untuk anak-anak :) Moga-moga pakai sepatu ini nggak ada lagi insiden sandal putus talinya ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi iya mba Fita :D mulai beralih ke sepatu niih

      Hapus
  10. Aku kok kurang suka pake sendal gunung yaaa, menurut gw ngak fashion banget hahaha. Lebih suka pake sendal jepit

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha... sendal jepit lbh fashion ya, bisa dimatchingin sama warna kancut :p

      Hapus
  11. yang penting nyamaaan yah :). Aku juga suka pake sandal gunung.

    BalasHapus

What wasn't said, will never be heard. What wasn't wrote, will never be read. Tinggalin komentar yuk...