Rabu, 05 Agustus 2015

Waspadai Kontraksi Palsu Pada Ibu Hamil


Adakah yang belum tau tentang kontraksi palsu? Jujur saja, aku baru tau istilah itu di kehamilan ketiga. Haha, kemana aja ghueh selama ini. Berikut catatanku tentang kontraksi palsu pada ibu hamil, yang berhasil kukumpulkan dari berbagai sumber, termasuk dari dokter tempatku konsultasi selama kehamilan.


Yang pertama kali mempopulerkan istilah kontraksi palsu adalah Dokter Braxton Hicks dari Inggris, yaitu pada tahun 1872, sehingga kontraksi palsu ini dikenal juga dengan istilah Braxton Hicks.

Kontraksi Palsu biasa terjadi di akhir masa kehamilan, yang merupakan pertanda bahwa tubuh ibu hamil sudah mulai siap untuk kontraksi yang sebenarnya sebagai proses melahirkan bayi. Meski demikian, ternyata Braxton Hicks, alias kontraksi palsu ini sebenarnya sudah mulai dialami ibu hamil sejak awal trimester kedua. Tandanya yaitu ketika otot perut mengencang dan terasa tidak rileks. Hanya saja mungkin si ibu tidak menyadari kalau itu adalah Braxton Hicks.

Termasuk aku, yang sejak trimester kedua sudah sering merasakan otot-otot perut menjadi tegang. Terutama saat puting payudara mendapat rangsangan, saat kelelahan karena jalan kaki atau lari, atau saat sedang marah dan sedih. Otot perut yang tegang ini biasanya akan kembali rileks setelah aku beristirahat, mengatur nafas sambil duduk atau bernaring dengan posisi yang nyaman.

Nah, kalau pada trimester ketiga, terutama saat mulai mendekati hari-hari perkiraan lahir, kontraksi palsu ini rasanya mirip-mirip dengan kontraksi sebelum melahirkan Sehingga biasa agak sulit membedakan antara kontraksi palsu dengan kontraksi melahirkan, dan membuat bertanya-tanya, apakah ini tanda akan segera melahirkan?

Seperti yang kualami hari Senin (27/7) minggu lalu. Sekitar jam 10 malam, aku merasa mules, seperti kontraksi mau melahirkan. Rasa mules kontraksinya mulai dari perut bagian atas, sampai ke bawah. Durasi mulesnya sekitar 10 sampai 15 detik. Tetapi tidak teratur. Sempat mengira itu adalah tanda mau melahirkan. Aku hampir berangkat ke klinik malam itu juga. Tetapi kuurungkan niat, karena takutnya itu hanya kontraksi palsu.

Aku lalu mencoba berjalan-jalan di dalam rumah, keluar kamar, mondar-mandir dari ruang tengah ke dapur. Sesekali duduk, rebahan, juga mengambil posisi sujud dengan bahu menempel ke lantai/kasur. Lama-lama mules kontraksinya reda, yaitu sekitar jam 12-an malam.

Besok paginya, pada Selasa (28/7), aku baru ke klinik untuk konsul ke dokter. Aku minta diperiksa kondisi janin dalam kandunganku. Apakah posisinya sudah benar-benar masuk di jalan lahir?

Dokter bilang, kepala janin memang sudah di bawah. Tapi saat di raba, kepalanya masih goyang, alias belum masuk ke jalan lahir, dan belum ada bukaan. Dan dokter menegaskan, kontraksi yang kurasakan di malam sebelumnya adalah Braxton Hicks. Lagi pula, dari layar USG saat itu, diketahui usia kandungan masih 36 minggu. 

Kecuali kalau usia kandungan sudah lebih dari 38 minggu. Lalu merasakan kontraksi, dan kontraksinya terjadi terus menerus dan teratur, dan tidak mereda setelah ibu hamil bergerak atau mengubah posisi badan. Itu bisa jadi adalah tanda akan segera melahirkan. Apalagi jika diikuti dengan flek, atau keluar cairan bercampur darah dari jalan lahir, atau pecah ketuban. Harus segera ke klinik bersalin. Begitu juga jika flek dan pendarahan terjadi sebelum usia kandungan 38 minggu. Harus cepat-cepat ke dokter untuk mendapat penanganan yang tepat.

Berikut ini beberapa perbedaan antara kontraksi palsu dan kontraksi menjelang melahirkan;
  • Kontraksi palsu datangnya tidak teratur, baik jarak antar kontraksi (interval) maupun lamanya kontraksi (durasi). Sedangkan kontraksi asli datangnya dengan interval, yaitu setiap berapa menit sekali, dan makin lama intervalnya semakin pendek. Durasinya pun teratur, dan semakin lama durasinya semakin panjang.
  • Kontraksi palsu akan hilang sendiri, biasanya setelah ibu hamil mengubah posisi. Sedangkan kontraksi asli akan terjadi terus dan tidak mereda meakipun ibu hamil mengambil posisi nyaman.
  • Kontraksi palsu tidak terlalu terasa nyeri, dan hanya terasa di bagian perut. Sedangkan kontraksi yang asli terasa nyeri mulai dari pinggang, menjalar ke perut bagian depan sampai ke bawah.


Tips:
Untuk memastikan apakah yang dirasakan ibu hamil merupakan kontraksi palsu atau asli, coba catat frekuensi kontraksinya, kekuatan dan lamanya kontraksi. Manfaatkan stopwatch di handphone atau jarum penu juk detik di arloji/jam dinding.

Okelah, aku jadi makin faham tentang kontraksi palsu setelah pulang dari klinik. Jadi bisa lebih waspada dan ngga panikan kalau merasakan kontraksi lagi.

Ref:

11 komentar:

  1. waktu hamil 8 bulan aku pernah kontraksi palsu plus konstipasi mak, rasanya wuenaaaaaak tenan sampe ga tahan dan melipir ke RS buat cek XD ga taunya kontraksi palsu plus konstipasi, pantesan rasanya ga nahan banget hahahaaa

    The Journey

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaaah, kebayang enaknya itu rasanya :v tapi untunglah semua baik2 saja yaa... :*

      Hapus
  2. hokesippp....catettt duluu hehehe.makasih ya mak infonya^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip bumil cantiik, sehat-sehat yoo ;)

      Hapus
  3. berarti mulai skr kemana-mana bawa stopwatch ya

    BalasHapus
  4. Aku juga ngerasain kontraksi palsu, Mak. Waktu itu pas uk ke-35. Sampe diinfus segala untuk mengurangi mules2nya. Huhuhu.
    Sekarang dirimu harus lebih waspada, ya. Udah deket HPL, kan? Semoga lancar ya persalinannya nanti. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walaah, sampe di infus. Berarti mulesnya lumayan hebat yaa... Hihi, siyaap, aku waspada selalu InsyaAllah... Makasiiih yaa :*

      Hapus
  5. Tiap hamil, di trimester ketiga, aku selalu sering kena Braxton Hicks. Waktu anak pertama sih panik, tapi begitu anak yang berikutnya, udah enggak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha... Hamil pertama kedua aku masi katrok bgt, gk kenal Braxton Hicks. Jd sekarang di kehamilan ketiga, harap maklum klo br ngeh dan sempet panik. :v

      Hapus
  6. Wah terima kasih infonya, baru tahu tentang kontraksi palsu, bisa jadi info untuk para ibu muda yang belum pernah tahu tentang hal ini :D

    BalasHapus

What wasn't said, will never be heard. What wasn't wrote, will never be read. Tinggalin komentar yuk...