Kamis, 14 Mei 2015

Daffa' istirahat dulu nulis blog

Sebenarnya Daffa' senang menulis cerita untuk mengisi blognya, DaffaStory.Blogspot.Com. Tetapi sepertinya sekarang ini harus distop dulu.


Alasan utamanya adalah karena ada hal lain yang harus lebih difokuskan, yaitu menulis tangan.

Daffa' sekarang kelas 2 SD, dan gurunya sering laporan kalau Daffa' tidak bisa menulis dengan kecepatan rata-rata murid lain di kelasnya. Iya, Daffa' tergolong lambat dalam menulis, sehingga selalu tertinggal.

Malam hari, sehabis magrib dan sesudah makan malam, aku tak lupa mengecek buku PR Daffa'. Jika ada PR, pasti Daffa' tidak selesai dalam menulis soal. Jadi Daffa' harus ke rumah teman dulu setiap malam untuk mencontek soal PR-nya.

Dulu waktu kelas satu, aku agaknya tidak mempermasalahkan soal lambatnya Daffa' dalam menulis. Melihat Daffa' tetap semangat ke sekolah saja aku sudah senang. 

Ditambah lagi kesukaannya membaca buku, aktif dan ceria bermain bersama teman di luar rumah, menunjukkan perhatian terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya, dll. Bahkan mau menulis cerita di blog, itu sudah menjadi nilai plus, menurutku.


Tetapi menjelang kenaikan kelas 3 sekarang ini, aku jadi ketakutan. Ibu guru wali kelasnya sudah beberapa kali memberi peringatan. Jika Daffa' masih saja lambat menulisnya maka dengan berat hati, harus tinggal kelas.

Jujur saja, aku sedih mendengarnya. Meskipun setahuku, kebijakan baru sekarang ini, tidak boleh ada anak yang tinggal kelas selama masih di bangku Sekolah Dasar. Tapi aku berusaha mengerti kekhawatiran ibu guru. Beliau pasti tak ingin kelak anak didiknya terpaksa diluluskan padahal tidak memenuhi syarat kelulusan.

Nah, jika sudah begini, rasanya sudah mulai mengarah pada stempel yang dilekatkan pada anak murid di sekolah. Mau tidak mau, akan ada stempel 'anak pintar' dan 'anak bodoh'.

Padahal aku yakin, setiap anak tidak ada yang terlahir bodoh. Setiap anak punya keistimewaan dan potensi yang bisa diasah untuk membawanya pada sebuah kesuksesan. Dan prestasi akademik di sekolah bukanlah satu-satunya faktor penentu kesuksesan, kan?

Nah, kadang aku merasa bersalah karena merasa tidak mampu menyekolahkan Daffa' di sekolah yang tepat yang tidak mengkotak-kotakan anak berdasar label bodoh & pintar. Apalagi kalau bukan soal biaya.

Tapi buat apa juga terus menerus menyesal. Bukan kah tidak ada kata terlambat, dan akan selalu ada jalan jika mau berusaha?


Jadi sekarang ini aku dan lelaki kurusku, kompakan mengarahkan Daffa' untuk lebih banyak latihan menulis tangan. Latihan menulis secara intensif ini sudah berjalan sekitar 1 bulan.

Sekarang, hasilnya sudah lumayan menurutku. Setidaknya sekarang menulis soal PR sudah tidak ketinggalan lagi. Semoga ke depannya Daffa' bisa mengimbangi kecepatan teman-temannya di kelas dalam menulis. Aamiin.

Oya, lelaki kurusku punya cara membuat Daffa' agar senang menjalani latihan menulis di rumah.

Kebetulan Daffa' punya koleksi buku bacaan yang lumayan. Jadi Daffa' diberi kebebasan untuk memilih buku apa yang akan dicontek untuk disalin ke dalam buku latihan menulisnya. Biasanya buku yang dipilih adalah buku sains.

Kufikir, cara ini efektif juga untuk meningkatkan minat baca pada anak. Karena mau tak mau, ketika hendak menyalin, Daffa' harus membaca terlebih dahulu.

Nah, bukankah dengan membaca bisa menambah wawasan? 

8 komentar:

  1. semoga dafa bisa menulis dengan cepat ya mbak,kalau di latih terus pasti keterlambatan itu bisa diatasi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih doanua mba Nindi, aamiin...

      Hapus
  2. wah anaknya mak Nurul bloger cilik ya hehe

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. Makasiih ya maak... Semangaat

      Hapus
  4. Pasti daffa bisa deh, kalau latihan terus menerus

    BalasHapus

What wasn't said, will never be heard. What wasn't wrote, will never be read. Tinggalin komentar yuk...