Selasa, 26 Mei 2015

Agar Kakak Menyayangi (calon) Adik Bayi

Dulu, setelah aku melahirkan Abyan (anak kedua), tetanggaku terheran-heran mengetahui Daffa’ (si sulung) yang terlihat sangat menyayangi adik bayinya. Ini karena tetanggaku punya pengalaman tak enak setelah melahirkan anak kedua. 

"Kok bisa?" Tanya tetanggaku yang mengaku sering kesal pada anak sulungnya karena sangat jahil dan nakal menurutnya.


Anak sulungnya suka berisik dan sengajak berteriak untuk membangunkan adik bayinya yang sedang tertidur. Bahkan kadang sampai tega mencubit agar adik bayinya menangis. Duh, aku nggak kebayang kalo ada di posisi tetanggaku itu. Pasti stress.

Jadi orang tua memang banyak tantangannya. Sekolahnya seumur hidup, dan nggak boleh bosan belajar.

Dulu waktu di kehamilan pertama, aku lumayan rajin baca buku. Mulai dari buku kehamilan dan menyusui, sampai buku-buku psikologi tentang pendidikan anak. Dari buku-buku itulah aku banyak belajar, bagaimana agar persoalan seperti yang dialami tetanggaku itu tidak terjadi. 

Salah satu kesalahan orang tua ketika punya bayi lagi, biasanya adalah memusatkan perhatian kepada adik bayi, lalu menuntut si kakak untuk menjadi dewasa. Padahal kan usia si kakak juga masih anak-anak, atau bahkan masih balita yang juga masih butuh banyak perhatian orang tua. 

Abyan baru lahir :) 

Menuntut menjadi dewasa maksudnya bagaimana? 

Begini, stress memang kadang sulit dihindari bagi kaum ibu. Apalagi sepertiku dulu, anak pertama masih balita, udah punya bayi lagi. Yang satu nangis karena popoknya basah, eh yang satunya lagi nangis minta dibikinin susu. Kalau sudah begini, kalo nggak sabar-sabar, biasanya ibu akan marah sama si kakak, nyuruh diam, nyuruh sabar. 

Meminta si kakak untuk diam dan sabar dengan marah itu menurutku sudah bisa dibilang maksa anak-anak menjadi dewasa. Jika terjadi berulang-ulang, si kakak bisa merasa kalo dia sudah nggak disayang lagi. Dan bisa jadi, tindakannya yang usil dan sengaja mengganggu adik bayi itu adalah usaha si kakak untuk mendapat perhatian orang tua. 

Parahnya, lingkungan sekitar juga bisa memberi pengaruh kepada si kakak untuk semakin merasa tidak disayang. Contohnya saja anak sulung tetangga (sebuat saja si A) yang kuceritakan di atas tadi. 

Umurnya si A sudah 6 tahunan, sudah biasa main di luar dan berkomunikasi dengan tetangga. Nah, namanya juga tinggal di perkampungan dengan tingkat pendidikan ibu-ibu yang tidak bisa dibilang tinggi, (sekolah tinggi beda ya sama pendidikan tinggi), ibu-ibu lain tuh suka ngeledek dan becanda-in si A. 

“Hayo lo, kamu mau punya adik bayi, nanti ngga disayang lagi lo sama mama.” Begitu candaan ibu-ibu di kampungku dulu. 

Duh, aku sedih mendengarnya. Terlebih lagi ketika tetanggaku, mamanya si A itu akhirnya curhat. “Kok, si A ngga sayang ya sama adiknya. Nggak kayak Daffa’ gitu.”

Daffa' & Baby Abyan

Barangkali aku beruntung karena waktu Abyan lahir, umur Daffa’ belum genap 2 tahun. Jadi dia belum bisa terpengaruh oleh candaan keterlaluan seperti di atas itu. Dan beruntungnya lagi, dulu setelah Abyan lahir, Daffa’ jadi sering sakit, pernah demam sampai kejang malah. Jadi perhatianku justru lebih banyak ke Daffa’ dari pada Abyan yang masih bayi merah. 

Nah, sekarang di kehamilan ketiga ini, Daffa’ & Abyan umurnya udah 8 & 6 tahun. Umur-umur dimana anak sudah senang main di luar rumah, bertemu banyak orang, sudah bisa diajak ngobrol orang dewasa (terutama ibu-ibu tetangga yang suka kepo). Tapi semoga tetangga di lingkungan baruku nggak iseng mempengaruhi dan menakut-nakuti seperti ibu-ibu tentangga di lingkungan tinggalku yang dulu.

Aku harus mempersiapkan mental Daffa’ & Abyan sedini mungkin, untuk bisa menerima kehadiran anggota keluarga baru dengan bahagia. Untuk bisa membuat mereka sayang sama adik bayinya, dan mengajarinya dewasa dengan sesuai umurnya. 

Aku punya tips yang pernah kupraktekan ketika dulu mempersiapkan Daffa’ menyambut kelahiran Abyan, dan sekarang sedang kuterapkan lagi untuk menyambut kelahiran calon anggota keluarga baru kami.

Baby Daffa'

Berikut beberapa tips sederhana agar kakak menyayangi adik bayinya; 
  • Berkomunikasi dengan anak-anak tentang rencana untuk punya adik bayi. Caranya bisa dimulai dengan bertanya, “kamu mau punya adik lagi, ngga?” Lihat reaksinya. Anak biasanya akan banyak pertanyaan, jawab dan jelaskan dengan sabar, menggunakan bahasa anak-anak, sampai mereka bisa mengerti dan menerima. 
  • Ceritakan kepada anak-anak tentang masa kehamilan, ketika mereka masih dalam kandungan, sampai kebahagiaan ketika mereka lahir, dan masa-masa menyusui. Kalau ada, tunjukkan foto atau videonya.
  • Puji si kakak jika melakukan hal-hal baik untuk adiknya. Ini penting agar si kakak tetap merasa diperhatikan. Dalam kasusku yang sebentar lagi punya anak ketiga, aku menceritakan bagaimana dulu Daffa’ ikut membantuku ketika Abyan baru lahir. Seperti, memuji Daffa’ yang ikut terbangun tengah malam untuk menemaniku ketika menyusui, membantu mengambilkan popok, dll. Ini penting untuk memberi contoh kepada Abyan, agar kelak juga terdorong untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang sama. 
  • Beri kado atau hadiah untuk si kakak. Biasanya, ketika bayi kita lahir, akan banyak teman yang memberi kado untuk bayi. Agar tidak timbul kesenjangan, kita bisa membelikan kado khusus untuk si kakak, dan membukanya bersama-sama dengan kado-kado milik adik bayi. 
  • Luangkan waktu untuk bisa bermain bersama kakak, atau membacakan buku dongeng, atau menemaninya belajar dan membuat PR. 

Untuk bisa sukses membuat anak-anak berbahagia menyambut kelahiran adik bayi, mencintai dan menyayangi, dibutuhkan kerja sama yang baik antara ibu dan ayah. Harus sabar, sabar, dan sabar, dalam menjalani proses belajar. Ya, meski kadang aku juga masih sering lupa sih untuk sabar. Catatan ini sekaligus untuk memperkuat ingatanku lagi tentang pentingnya sabar, dan menyadari lagi kalo Allah mempercayakan kita untuk melahirkan dan mendidik anak, bukan untuk main-main. Bismillah.

Kehamilan 18 minggu

Sejauh ini, Alhamdulillah, Daffa’ & Abyan sudah menunjukkan rasa bahagianya mau punya adik lagi. Menunjukan ekspresi sayang tanpa diminta. Contoh sederhananya, Daffa’ selalu mencium perut gendutku setiap kali hendak pergi ke masjid menjelang magrib, atau ketika sebelum tidur. 

Atau Abyan, meskipun dia tidak se-expressive Daffa’, rasa sayangnya tetap terlihat. Misal, ketika diajak foto, dia maunya pose cium perutku. Dan ketika aku sedang tidak dirumah (kerja), Abyan sering minta nonton video hasil rekaman USG. "Kangen dede bayi," katanya. 

Sekarang gantian ya, bapak ibu share yuk, gimana tipsnya supaya kakak bisa menyambut kelahiran adik bayinya tanpa kuatir ngga disayang lagi. Aku boleh nyontek, ya… :)

10 komentar:

  1. Duuh happy banget lihat foto berempat eh berlimanya. Ibu2 yg nengok harusnya juga fair. Kalau ada ibu melahirkan & aku tau ada kakaknya yg masih kecil, biasanya aku bawa kado 2. Satu utk di bayi, satunya utk si kakak. Walaupun jadinya gak bisa beli kado mahal krn harus beli 2, tp senang bisa bikin si kakak happy krn merasa diperhatikan & nggak caper rewel dg tamu2 yg lg nengok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi.. Iya ya, berlima itu :D cuma satunya belom keliatan... Makasiih mba...

      Hapus
  2. dede Abyan waktu kecil lucu
    pengen cubit pipinya hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jgn di cubit kakak, nanti nangis :D

      Hapus
  3. Iya kadang banyak orang lupa ya utk membagi perhatian dg si kakak, sehingga akhirnya dia merasa tersisih. Dulu waktu mau punya adik, Vivi seneng sekali. Jarak kelahirannya kan 5 tahun tuh, dia sudah paham saat diajak bicara tentang akan adanya anggota baru di rumah lagi. Dia sayang banget sama adiknya pas bayi. Tapi begitu udah sama2 gede malah gelutan wae heheheee.... Klo salah satu pergi nginep di luar rumah bikin rindu deh dg kehebohan mereka :D
    Take care ya Noe... sehat semua ibu debay dan semua anggota keluarga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naah, tp yg kangen keriuhan pasti bkn emaknya aja ya. Kaka dan adiknya jg pasti saling merindukan tuh. Kayak daffa sm abyan jg, seakur2nya pasti ada saat berantem. Tp klo lg jauh2an pada kangen :D

      Makadih doanya, sehat selalu jg ya doromu sekeluargaaa

      Hapus
  4. Sehat selalu y mbak, smpek lahiran..amin..
    Bekal buat nih kalau mau promil nnti :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mba, semoga dikau jg sehat selalu ya... :)

      Hapus
  5. Anakku yang gede suka iri kalau bundanya lagi nenenin adeknya, untung ayahnya cepat tanggap ngajak si kakak main... hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beruntung yaa punya suami/Ayah yg bs di ajak komplek akan ngedidik anak. Alhamdulillah...

      Hapus

What wasn't said, will never be heard. What wasn't wrote, will never be read. Tinggalin komentar yuk...