Sabtu, 26 April 2014

Titik Balik Menuju Iklas

Iklas itu sulit, tapi bukannya tidak mungkin. Satu kalimat itu yang sering aku ucapkan untuk memotivasi diri sendiri agar bisa menangkan diri sendiri ketika keadaan sulit dan sulit untuk mengiklaskan sesuatu. Dan iklas itu bukan hanya dibutuhkan saat kehilangan sesuatu, tetapi menyeluruh pada aspek kehidupan.

Ah! Berat banget kata-kata di paragraf pertama itu. Tumben nulisnya ngga ringan nih. Aku sih merasa belum khatam mempelajari bab ikhlas dalam buku kehidupan. Jadi akan lebih bijak jika untuk GA-nya Ade Anita si penulis keren dengan dwiloginya yang baru terbit itu, aku berbagi pengalaman saja. Bukan berteori.

Aku ingin bercerita kisah masa kecilku yang dulu aku kutuki sendiri. Bagiku Tuhan begitu tak adil terhadapku. Sejak bayi divesarkan kakek dan nenek, sementara bapak dan ibu kandung bercerai di usiaku yang masih 9 bulan.
Aku juga benci dengan fisikku. Aku tidak cantik, sehingga waktu SD, aku tidak merasakan cinta monyet seperti teman-teman lain yang audah mulai naksir-naksiran pada lawan jenis. Yang naksir aku? Nggak ada.

Aku benci karena kakekku yang pensiunan Tentara Keamanan Rakyat pada zamannya itu... miskin. Kakek pernah bercerita bahwa berkas pensiunannya dibawa lari orang dengan dalih akan membantu mengurusi uang pensiunannya di kota. "kalo kakek kenal orangnya, kenapa tak dicari?", tanyaku. Aku ingat, kakekku hanya tersenyum menanggapi pertanyaanku.

Aku benci pada tempaan kakekku yang militerisme itu dalam mendidikku. Bukan hanya soal kemiakinan. Bayangkan, untuk mendapat pensil baru karena yang lama sudah sangat pendek, aku harus mencari kayu bakar dulu, atau pekerjaan lain yang tak kalah beratnya. Ini berlansung sampai aku SMP.

Sedangkan nenekku orangnya sangat cerewet. Setiap hari mgomol ngfak habis-habis. Ya wajar sih, akunya bandel.

Masa SMP, katanya masa pencarian jati diri. Ah, aku mulai jadi pemberontak. Aku malu sama teman-teman. Mereka bisa asik berdandan rapi, nongkrong sore-sore atau berkegiatan di lapangan seperti main bola voli atau main bola kasti. Aku, tetap saja masuk kebun dan hutan untuk membantu kakek nenek bertani.

No, no! Aku kabur saja. Meski dilarang, aku tetap ikut pramuka. Paling senang jika ada kegiatan hiking atau kemah. Atau, jika tak ada kegiatan aku memilih main ke rumah teman sampai sore. Duh bandelnya aku jaman dulu.

Tapi rupanya, sekarang aku justru mensyukuri keadaan masa kecilku. Padahal aku dulu sangat tidak iklas dengan ketetapan yang Tuhan.beri atas hidupku. Astaghfirullah..

SLTA adalah masa titik balik dalam hidupku. Aku mulai memahami betapa bermanfaatnya tempaan kakek nenek. Itu ternyata membentukku menjadi pribadi mandiri. Hidup sendirian ngekos di kota, jika tak uang menipis, aku dagang. Uang berputar dan aku mendapat keuntungan.

Tidak usah bolak balik pulang kampung untuk minta uang. Aku juga nggak perlu sedih karena nggak punya pacar, aku sudah lebih faham akan tujuan orang tua yang menyekolahkan anaknya. Bukan buat gaya-gayaan dengan tas dan sepatu baru dan pacar-pacaran. Aku selalu ingat nasehat nenek sebelum aku pergi meninggalkan kampungku.

Belajar yang rajin. Jaga diri baik-baik. Fokus pada pelajaran agar nilaimu bagus. Lulus, kerja! Nggak usah sedih karena ngga ada cowok yang naksir. Nanti, kalau kamu sudah jasi perempuan mandiri, pasti ada yang akan mengejarmu.

Jika mengenang perjalanan hidupku yang itu, aku seringnya senyum kecut. Waktu kecil itu, aku tidak sekedar membenci, tapi nggak iklas sama sekali atas hidupku yang kukira penuh kemalangan. Namun ternyata dibalik itu ada hikmah besar yang akhirnya kusadari.

Terimakasih Ya Rabb...
Kau ijinkan aku menyadari ini, bahwa segala ketetapanMu atasku adalah yang terbaik. Aku hanya perlu iklas agar dapat menjalani hidup ini dengan perasaan damai. Dan terus ajari aku untuk iklas Ya Rabb.. aamiin.

1 komentar:

  1. tiap tahapan kehidupan emang penuh gejolak ya kak...
    iklas emang susah juga terkadang buat dipraktekin

    BalasHapus

What wasn't said, will never be heard. What wasn't wrote, will never be read. Tinggalin komentar yuk...