Sabtu, 28 Desember 2013

Berakhir

“Lepaskan aku.”
“Tau begini, aku takkan datang.”
“Cobalah mengerti.”
“Mengerti apa? Kenapa kau menangis? Tidak malu dilihat orang?”
“Sulit kumengerti…”
“Berhenti membicarakan ini, kau tidak mengerti, suruh aku mengerti?”
“Penuhi permintaanku!”
“Kau gila!”
“Kau yang gila!”
“Argh!”
“Hey! Kau mau kemana?”
“Sudah kubilang, jangan membicarakan apapun yang bisa membuatmu menangis. Apa lagi di tempat umum seperti ini.”
“Jangan tinggalkan aku sekarang. Aku masih rindu kamu. Aku butuh pelukan”
“Aku nggak bisa, Lia.”
“Aku mohon. Please!”
“Ayo ikut aku.”
“Kemana?”
“Puncak.”
“Ke rumahku saja.”
“Jangan gila. Ayo ke mobil.”

*****

“Halo!”
“Kau telepon siapa?”
“Bisa gantikan aku kerja shift malam ini? Istriku sakit.”
“Hey! Jawab aku.”
“Ok. Terima kasih.”
“Kamu bolos kerja?”
“Menurutmu?”
“Kita benar-benar akan ke Puncak?”
“Dengar ya, Lia, yang cantik. Aku tidak terbiasa membohongi istriku. Kau tau kan, aku orang yang sangat teratur. Berangkat kerja jam sekian, pulang jam sekian, hari ini main futsal, hari itu main badminton, hari anu menemani istri nonton. Dan cuma begini caranya agar aku bisa menuruti inginmu yang konyol itu.”
“Kenapa tidak dari dulu saja kau membolos seperti ini?”
“Aku ada untukmu hanya sesaat, Lia. Aku tidak ingin suatu hari nanti, kamu mengenangku sebagai orang yang hanya bisa menyakitimu. Biarkan aku menjagamu dengan caraku. Jangan paksa aku untuk menoreh sejarah pahit yang bisa saja kau benci di masa yang akan datang.”
“Tapi aku ingin lebih. Aku mencintaimu. Kamu juga, kan?”
“Aku sedang menyetir. Jangan ganggu konsentrasiku!”
“Jika kamu tidak mencintaiku, untuk apa setiap hari kamu menyapaku? Menelepon, dan selalu memberiku uang untuk menopang biaya hidupku dan anakku.”
“Aku bukan orang yang tepat untukmu.”
“Lalu siapa orang yang tepat untukku? Bagaimana aku bisa mencari orang yang tepat untukku jika kau tak bisa melepaskanku?”
“Proses perceraianmu sudah selesai?”
“Untuk apa menanyakan itu?”
“Bagaimana aku bisa membiarkanmu mencari laki-laki lain? Sedangkan statusmu belum jelas.”
“Alasan!”
“Lia, dengar aku. Aku mencintaimu, tapi jangan paksa aku untuk mencintaimu dengan caramu.”
“Tapi aku tersiksa, Anton. Setiap saat aku memikirkanmu, tiada yang lain. Aku juga perempuan normal. Jika kamu tak mau menikahiku, tak masalah. Kamu bisa datang kapan saja. Aku rindu sentuhan.”
“Aku sudah bilang aku tidak bisa. Jangan paksa aku untuk menyakitimu lebih jauh.”
“Kalau begitu, biarkan aku mencari lelaki lain. Hanya soal waktu, kan? Apa bedanya sekarang atau nanti? Toh kita akan berpisah juga.”
“Kamu mau lebih banyak laki-laki hidung belang mampir di hidupmu, Julia? Dilabrak istri orang seperti beberapa waktu lalu, apa kamu tidak kapok? Dimana akal sehatmu? Aku hanya ingin mencintaimu dengan caraku. Biarkan aku menjagamu, sampai gugatan ceraimu diputuskan hakim. Lalu tugasku selesai saat kau menemukan lelaki yang tepat, yang bisa mencintaimu seutuhnya. Menikah.”
“Aku mohon, Anton. Sekali saja. Biar kita tuntaskan permainan ini sampai titik dosa penghabisan.”
“Jangan gerayangi aku seperti ini, Lia. Aku sedang menyetir. Bahaya.”
“Jika tidak sedang menyetir, kau akan menghempaskan aku. Cuma ini saat yang tepat.”
“Ough…Lia, sudah!”
“Ah! Ough!”
“Julia, awas!”
“Aaaak!”
Brak!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

What wasn't said, will never be heard. What wasn't wrote, will never be read. Tinggalin komentar yuk...