Jumat, 19 Juli 2013

Karena Wanita Ingin Dimengerti

Karena wanita ingin dimengerti,
Dengan tutur lembut dan laku agung.
Karena wanita ingin dimengerti,
Manjakan dia dengan kasih sayang.

Sebuah lagu dari Ada Band mengalun memenuhi ruang dengarku. Earphone yang terpasang di telinga memastikan hanya aku saja mendengar lagu ini. Setiap alunan musik dan kata yang dilagukan, seperti bilah-bilah pisau yang menyayat perih hati.

Tidak! Kau tidak mengerti aku, Anton. Aku mencintaimu, tapi begitu tega kamu pergi meninggalkan aku. Dalam hati aku hanya bisa meratap pedih.

Seharusnya, earphone di telingaku ini sedang memperdengarkan suaramu. Seperti biasa saat kita begitu asik berlama-lama berbincang. Membicarakan apasaja. Bahkan hal-hal tak penting sekali pun. Tak peduli berapa banyak pulsa gsm yang harus kau habiskan. Selama kita bisa tetap terhubung, selama itu pula kita berbahagia karena rindu saling berpelukan dalam dimensi yang lain. Tapi kini, rindu itu serupa pil pahit yang harus aku telan sendiri. Ditemani lagu-lagu yang rajin kau kirimkan lewat blackberry messenger di hari-hari lalu, demi untuk menyanjung hatiku melalui syairnya.

Namun senja kali ini tak ada lagi kamu yang menemani perjalanan pulang setelah usai jam kerjaku. Langit yang memerah jingga itu terasa lebih sendu kali ini setelah semalam kau ucapkan kalimat perpisahan itu. Kubuka lagi folder chats di BBM. Namamu sudah tertimbun dengan pesan-pesan baru hari ini dari beberapa temanku.

Sesuatu yang bodoh yang aku sadari, namun tetap aku lakukan. Kata-kata perpisahanmu yang memilukan ini seharusnya sudah aku hapus sejak semalam agar tak bisa kulihat lagi. Kau tau? Aku membacanya ulang!

“Aku hanya sesaat”

“Kamu harus segera menemukan orang yang tepat”

“Maaf, tak bisa menjagamu lebih lama”

“Julia, aku tetap sayang kamu”

Sampai di kalimat terakhirmu itu, tak kuasa lagi aku memandang terlalu lama pada layar blackberry-ku. Karena disana aku bisa melihat jelas wajahmu yang terpasang sebagai display picture. Senyummu masih manis, dengan t-shirt merah kesayanganmu. Wajahmu masih teduh dan menawarkan kedamaian yang selalu aku cari. Ironis sekali. Kau bilang kau sayang padaku, namum kau tepat saja pergi.

Kupalingkan wajah dengan cepat ke arah luar jendela. Taksi yang membawaku pulang dari kantor melaju pelan di tengah jalanan yang dipadati kendaraan lain. Pandanganku tertutup bening-bening yang siap meluncur ke pipi. Sementara di luar sana, lampu-lampu jalan baru saja menyala. Pantulan cahayanya jatuh dimataku yang telah basah. Aku tak bisa melihat apa-apa selain luka yang menganga.

Terlebih saat mp3 yang kuputar dengan shuffle mode sampai pada lagu berirama kroncong yang pernah ka kirim padaku. Syair lagunya kini seperti jeruk nipis terbelah yang kau perahkan di atas lukaku.

Semua hangatnya oh dirimu
Berikan aku arti hidup
Suguhkan segala raga dan jiwamu untuk ku
Ragamu untuk ku
Jantungmu untuk ku

Taukah kamu, Anton? Tanpa kau minta pun, aku telah memberikan semuanya untukmu. Dan setelah kepergianmu, apalah artinya aku?

Tiba-tiba aku merasa bodoh. Bagaimana dulu aku bisa sangat percaya padamu. Seolah kau akan selamanya menjagaku. Padahal aku tau, cinta yang hadir di antara kita saat itu tidak dalam waktu yang seharusnya. Cincin di jari manismu itu seharusnya menjadi isyarat bagiku untuk membunuh rasaku. Tak seharusnya aku memelihara cinta untuk lelaki yang telah beristri sepertimu. Ya, aku memang bodoh!

******
500 kata
Untuk prompt 21 suka-suka Monday Flash Fiction

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

What wasn't said, will never be heard. What wasn't wrote, will never be read. Tinggalin komentar yuk...