Rabu, 10 Juli 2013

Demi cinta

Setelah jeda yang begitu lama, lelaki itu menghabiskan isi gelasnya dengan sekali tegukan. Diletakkannya lagi gelas bening yang kini tersisa ampas kopi hitam di dasarnya.

Tak lama kemudian, ia mengernyitkan dahinya. Memegangi kepalanya mulai yang terasa berat. Semakin disipitkan matanya karena pandangan semakin kabur. Berusaha menangkap wajah Lissa yang memintanya datang karena ada hal penting untuk dibicarakan. Tak berhasil. Lalu ia jatuh pingsan.

*****

"Kak, aku hamil."

Hendri tersentak. Badannya tertarik ke belakang, membentur sandaran kursi. Perhatiannya berpaling dari layar komputer yang menampilkan grafik-grafik laporan dari bagian keuangan. Hendri begitu serius karena dikejar deadline kantor siang itu. Sehingga ia tak menyadari Lissa datang dan masuk ke dalam ruang kerjanya, dan tiba-tiba menyampaikan hal yang mengagetkan.

"Maksudmu?" Hendri mendongak, menatap Lissa yang berdiri di depan meja kerjanya.

"Ini anakmu, Kak." Lissa memegangi perutnya. "Kakak ingatkan? Kejadian dua bulan lalu."

"Kamu menjebakku, Lissa?"

"Nikahi aku, Kak." wajah Lissa memelas. "Aku Mohon"

Hendri tercekat. Tak sanggup berkata-kata lagi. Bangkit dari kursinya, lalu melangkah mendekati Lissa yang kini sudah terisak. Dipeluknya tubuh Lissa, rekan kerja sekaligus mantan kekasih yang telah diputuskannya setagah tahun lalu, setelah tahu bahwa mereka ternyata saudara kadung yang telah terpisah sejak kecil.

*****
Teruntuk Prompt.20 Monday Flans Fiction

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

What wasn't said, will never be heard. What wasn't wrote, will never be read. Tinggalin komentar yuk...