Selasa, 23 Juli 2013

Cintaku (tidak) koma

koma1
Pagi, disudut ruangan kantor. Aku jatuhkan tubuhku di sofa merah muda. Aku baru tiba setelah melewati 60 menit perjalanan. Ku lirik jam tangan seiko yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Masih jam 7 lewat 15. Ah! Malas sekali beranjak ke meja kerja.
Kulepas jaket yang mebungkus tubuhku. Aku berbaring. Kepalaku menyentuh sandaran sofa. Jaket hitam ringan itu kuselimutkan di paha. Aku meraih novel yang baru saja aku beli tadi malam di toko buku Salemba. Di Ramayana Mal Cilegon.
Aku membuka halaman 109. Hampir setengah dari novel ini sudah aku baca semalam sebelum tidur. Novel dengan cover berwarna hitam. Berjudul KOMA (cinta tanpa titik). Semalam aku tertarik untuk membelinya. Entahlah. Menurutku, hitam dan koma, menyiratkan duka. Tentang cinta.
Aku mulai melanjutkan membaca. Memang, awal-awal membacanya tadi malam, aku sedikit bosan. Satu bab pertama itu menceritakan tentang cinta yan koma. Tentang kerinduan seorang kekasih. Digambarkan dengan kata dan kalimat yang diulang dan diulang dalam setiap paragraf. Tapi, tetap aku lanjutkan membacanya. Bukankah aku harus menyelesesaikan apa yang sudah aku mulai?
Sekarang sudah sampai konflik. Aku malah larut dalam ceritanya. Sudah lupa dengan rasa bosan yang singgah di kepalaku tadi malam.
*****
Pukul setengah sepuluh. Tubuhku masih setia pada sofa. Kantor masih sepi. Aku mencuri jam kerja untuk novel. Aku sudah selesai membaca.
Antara terhanyut dengan konflik, ending yang tak terduga, dan bayangan tentang “dia” yang tak lepas dari pelupuk mata. Bahkan, tadi berulang kali aku harus mengibaskan tangan didepan mata untuk menggusahnya.
Entah kenapa, setiap kali aku membaca kisah cinta, entah itu sedih atau bahagia, yang ku ingat adalah dia.
KOMA (cinta tanpa titik). Bianca adalah tokoh utamanya. Seorang perempuan dengan segala sifat human being-nya. Tidak sempurna namun karakternya kuat dan menarik. Ditengah keraguannya. Apakah ada yang mau menerimanya? Setelah satu-satunya kehormatan sudah ia persembahkan atas nama cinta. Kepada kekasih yang justru menghianati?
Aku malah seperti disodori sebuah cermin besar. Besar sekali.
“Hey, Mia!”, seseorang di depanku hidup. Dia seperti kembaranku. Dia bicara!
 “Kamu masih memikirkan Bianca?”, dia bicara lagi. Aku masih diam. Berfikir?
“Lihatlah! Dia pernah punya harapan setinggi langit. Hancur. Terpuruk. Nista. Bangkit. Jatuh lagi. Bangun lagi. Dia bisa. Mengapa kamu tidak?”, saudara kembarku terus meracau. Aku menarik oksigen dalam-dalam. Memenuhi rongga dada yang sesak.
Dia hanya tokoh fiksi!
“Ayolah! Jangan pesimis!”, seakan tau apa yang kufikirkan. Dia mematahkan argumenku.
“Bianca saja akhirnya menemukan seorang yang bisa mengubah hidupnya. Menerimanya. Mengapa sekarang kamu yang ragu?”
DIA HANYA TOKOH FIKSI…!
“Sekalipun dia fiktif. Kamu bisa belajar darinya, bukan?”
Entahlah, aku tak tau.
Aku beranjak dari sofa. Aku tabrak cermin besar itu. Kembaranku hilang bersama hancurnya cermin itu. Aku melangkah mendekati meja kerja. Kuletakkan novel dewasa karya Mercy Sitanggang di sudut meja yang berantakan. Kemarin, sebelum pulang, aku malas merapikannya.
Kunyalakan komputer. Masih dengan hati yang sarat rasa yang entah. Aku kangen “dia”. Aku punya impian bersama “dia”. Sama seperti impian Bianca yang tertulis di bagian cover bukunya.
Yang saya inginkan hanya seperti ini
Menghirup aroma di pagi hari
Memainkan nada abstrak di sore hari
Dan berbaring menunjuk bintang di malam hari
Dengan matamu dalam pandangan
Jemarimu dalam genggaman
Dan tubuhmu dalam pelukan
Komputerku sudah selesai start up. Kulirik modem speedy di atas CPU. Lampu ASDL dan internet mati. Ah sial! Padahal aku ingin online.Saat galau seperti ini, biasanya aku akan menulis untuk update blog. Tapi, sudahlah. Perkerjaan menunggu.
Perhatianku beralih pada setumpuk berkas yang menunggu untuk kuperiksa. Kuraih pena. Kubuka lembar-lembar berkas itu. Kucoret apa yang perlu kucoret. Kutanda tangani apa yang perlu aku tanda tangani. Kukembalikan berkas itu ke meja administrasi. Meja itu tepat berada di balik punggungku.
Kini aku mematung di kursi. Menatap layar komputer yang tanpa koneksi internet. Sekarang tanggal 23. Harusnya aku semangat melakukan tugasku. Menghitung gaji karyawan, menyiapkan slip gaji, menyerahkan ke bagian keuangan untuk dicek dan transfer ke rekening karyawan pada Jumat, tanggal 26 nanti. Nanti sajalah.
Suara notifikasi dari android membuyarkan fikiranku yang semrawut. Facebook. Ada yang berkomentar pada salah satu fotoku bersama 2 anakku yang aku upload lebih dari setahun lalu. Ya Tuhan… Aku single mom! Statusku dan Bianca memang berbeda jauh. Tapi toh tetap saja laki-laki akan berfikir berulang untuk menerima kondisi kami.
Selesai mejawab komentar di facebook, kuraih blackberry di saku blazerku. Di sudut kiri bagian bawah layarnya, aku memilih aplikasichat BBM.
Abang…
Apa kamu bahagia mengenalku dalam hidupmu?
Apa kamu yakin mau menerimaku apapun adanya?
SEND

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

What wasn't said, will never be heard. What wasn't wrote, will never be read. Tinggalin komentar yuk...