Jumat, 14 Juni 2013

Gadis Kecil Ibu


Ruangan ini, menghadirkan rindu dimana aku masih hanya gadis kecilmu.

Di kursi yang aku duduki saat ini. Sambil menahan perih dan sesal yang mungkin akan terbawa sampai aku mati.

Dulu, disini kau selalu mengawasiku. Sambil merajut bunga-bunga untuk pajangan di atas meja dari benang wool warna-warni. Atau sambil membaca buku-buku kesukaanmu. Atau hanya diam memperhatikanku dengan senyum yang terus mengembang di wajahmu.


Aku bertumbuh. Kau tetap sama. Memperlakukan aku selalu seperti hanya gadis kecilmu.

"Tetaplah disini, di dekat ibu." Begitu katamu setiap hari.

Ingin ku sampaikan jerit hatiku, Ibu. Lepaskan jerat yang kau sebut kasih sayang ini. Aku ingin seperti yang lain. Mencicipi indah dunia, bukan hanya dalam kotak berdinding, dan kau sediakan sebentuk jendela kaca untukku mengintip seperti apa kehidupan di luar sana yang katamu penuh bahaya.

Sepi. Ada sepi yang tak pernah terusir oleh peluk dan kecupmu setiap hari. Sepi yang tak mau pergi meski setiap hari kau ciptakan suasana hangat dari ketulusan kasih sayang ibu dalam ruangan ini.

Maka diam-diam aku pergi memuaskan rasa ingin tahuku, demi mengusir sepi yang selama ini mengisi hati. Sebuah keputusan yang kemudian harus aku sesali sepanjang usiaku.

Ibu, kini aku pulang. Dengan membawa takdir hidup seperti engkau dulu. Sekarang aku tau, mengapa tak pernah kau ijinkan aku menghilang sedikitpun dari pengawasanmu. Dan mengapa tak pernah kau kenalkan sosok ayah padaku.

Maka haruskah aku kelak mengikuti caramu dalam mendidik cucumu yang kini ada dalam rahimku?

*****

Panjang kata : 237

Prompt #16: Kisah dari Balik Jendela

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

What wasn't said, will never be heard. What wasn't wrote, will never be read. Tinggalin komentar yuk...