Jumat, 31 Mei 2013

Prompt #14: Selamat Tinggal

credit: dokumentasi pribadi Kartika Kusumastuti
credit: Kartika Kusumastuti

 
 
"Bagaimana aku bisa menghancurkan desa itu?"
"Kau harus. Ini perintah!"
Sore yang penuh kecamuk rasa bagi Nick. Setelah semua usahanya tak mampu lagi melawan sesuatu yang disebut perintah.
Tanpa menjawab kalimat terakhir dari si penguasa yang telah menitahkan tugas berat itu, Nick melangkah gontai. Meninggalkan ruangan yang selalu mampu melemahkan kekuatannya.
"Aku mengerti perasaanmu, Nick. Maaf."
Suara yang tadinya keras itu melemah. Sejenak menghentikan langkah Nick yang sudah sampai di pintu keluar ruangan itu. Tanpa menjawab atau pun menoleh, Nick membuka pintu lalu keluar dan mempercepat langkah.
Di luar, hari mulai senja. Nick mengurungkan niatnya untuk pulang. Dia lalu berjalan menuju desa kecil yang amat dicintainya. Nick berhenti di gerbang desa yang terbuat dari kayu. Dilihatnya putih yang menutupi seluruh permukaan tanah. Beberapa juga tersangkut di dahan dan daun pohon cemara, serta menutupi sebagian atap-atap rumah. Salju.
"Prajurit tak boleh cengeng!" Nick teringat kata-kata ibunya. Semasa kecil, kalimat itu yang selalu ia terima setiap kali menangis karena kalah dengan teman-temannya dalam perang bola salju. Berkelebatan semua kenangan Nick di desa penuh konflik itu. Bagaimana ia sekuat tenaga menjaga benteng perangnya agar tidak dihancurkan teman-temannya yang memenangkan perang. Dan betapa lembutnya ibu menguatkan Nick dengan kata-kata itu, memeluk, lalu memberi soup hangat buatannya.
Tiba-tiba kakinya melemah. Nick jatuh berlutut. Tak peduli lagi pada pesan ibunya. Nick menangis. Berteriak memecah kebisuan. Mengutuk dirinya sendiri.
"Aku tak bergunaaaa...!!!"
Tapi desa kecil berselimut salju itu sudah kosong. Tak ada yang bisa mendengar teriakannya.

*****

"Kau sudah siap, Nickhun?"
"Ya." Nick menjawab datar.
"Apa yang akan kau lakukan setelah tugas ini selesai?"
"Aku terfikir untuk pulang ke negaraku."
"Mewujudkan keinginan ibumu untuk jadi prajurit perang?"
"Mungkin."
"Baiklah. Sesekali kau datanglah kesini nanti. Akan dibangun waterboom di atas lahan yang setelah 10 tahun kau sulap menjadi snow world ini. Saya yakin, Genting Highland Park ini akan kembali ramai."
"Ya, nanti aku akan datang sesekali. Jika perang antara negaraku dan Korea Utara tak pecah, dan hanya jika aku tak mati dalam perang."
Nick tersenyum kecut, lalu menjalankan mesin alat beratnya dan mulai menghancurkan desa buatannya.

*****

Panjang kata: 337
MFF Prompt Challenge #14: setting desa berselimut salju.
Ide datang begitu saja tadi pagi habis solat subuh, belom bagus kalo dibanding para Flash fiksioners yang lain, tapi saya sangat menghargai diri saya yang sudah bisa bikin cerita ini. mihihihi :D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

What wasn't said, will never be heard. What wasn't wrote, will never be read. Tinggalin komentar yuk...